Bicara mengenai kondisi ekonomi global, tidak bisa lepas begitu saja dari peranan negara-negara Asia, khususnya China. China adalah Negara besar dengan tradisi yang luar biasa di masa lalu maupun di masa yang akan datang. Barangkali dengan kita belajar mengenai China, akan memberikan pelajaran yang sangat penting yang kita tidak akan dapatkan di masyarakat lainnya di dunia.
Dalam usaha pemerintah AS untuk memberikan rencana bailout kepada system finansial Amerika, usaha pemerintahan Bush ini mengingatkan kembali kejadian the Great Depression di tahun 1930an. Akan tetapi untuk masyarakat Asia kehancuran ekonomi masih terdengar belum lama. Krisis finansial yang terjadi 10 tahun yang lalu membawa perbankan, korporasi dan pemerintahan dalam kehancuran. Krisis yang dimulai oleh kolapsnya mata uang Bath Thailand di pertengahan tahun 1997. Kemudian meluas ke belahan Asia timur lainnya dengan imbas terjadinya devaluasi mata uang Asia hingga mencapai Rusia dan Brazil. Kesinambungan “keajaiban ekonomi” di Korea Selatan dan Hong Kong telah berakhir begitu pula dengan pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan Thailand.
Pelajaran penting yang dapat diambil dari krisis tersebut adalah melakukan penimbungan cadangan devisa. Hal ini menjadi semacam kepercayaan pada pemerintahan di Asia Timur. Di tahun 1990an, pertumbuhan ekonomi Asia yang cepat hanya memiliki cadangan yang kecil, walaupun pada saat itu ekspor dan investasi asing sangat pesat perkembangannya. Ketika krisis datang di tahun 1997, kekurangan cadangan devisa mempersulit kemampuan pemerintah Asia untuk menyelamatkan perbankan, memaksa mereka untuk memohon pertolongan dari institusi internasional.
Akan tetapi bailout dari IMF datang dengan banyak persyaratan termasuk paksaan untuk liberalisasi pasar modal yang pada akhirnya menyebabkan krisis makin memburuk. Bahkan negara-negara barat memberikan sebuah “panggilan” krisis finansial Asia sebagai Krisis IMF, kegagalan pemerintah dan keputusasaan ekonomi bersama IMF secara vital mengkonfirmasi pentingnya mempertahankan cadangan devisa dalam jumlah besar, sebuah masalah tidak hanya menjaga kestabilan mata uang, akan tetapi juga kemerdekaan ekonomi sebuah Negara.
Satu Negara di Asia yang tidak terimbas oleh krisis finansial pada tahun 1997-1998 adalah China. Banyak alasan mengapa hal ini terjadi terutama pada saat itu China sudah memiliki cadangan valuta asing sebesar 100 Miliar US Dollar dan menolak untuk merevaluasi mata uangnya ketika krisis menyerang.
Sejak itu China secara agresif mendorong perkembangan ekonomi yang pesat, ekspor, dan model investasi untuk pembangunan ekonomi melalui pematokan mata uangnya dan memproduksi lebih banyak dari pada mengkonsumsi, cadangan devisa China bertumbuh menjadi monster menyentuh angka 1 Triliun US Dollar di tahun 2005. Bahkan ketika China mendapatkan tekanan dari menteri keuangan AS untuk membiarkan mata uang Yuan mengambang terbatas di tahun 2005, cadangan devisa ini tumbuh hingga 200 Miliar US Dollar per tahun. Dan 1.5 tahun belakang ini cadangan devisa China meroket hingga 1.8 Triliun US Dollar dan menjadi yang terbesar di dunia.
Namun menjadi paradox ketika cadangan devisa pada hari ini tidaklah kekayaan nyata yang dikembalikan ke dalam ekonomi dalam negeri, malahan cadangan devisa ini merupakan soft loan kepada pemerintah AS.
Bahkan sebelum kehancuran Wall Street, terdapat consensus kuat di China bahwa cadangan devisa telah tumbuh jauh di atas yang dibutuhkan untuk menahan krisis seperti di tahun 1997. Usulan untuk melakukan devesifikasi strategi investasi mulai menguat. Investasi pada US Treasury Bill hanyalah menyebabkan kerugian karena adanya gap antara yield yang didapat dengan apresiasi mata uang Yuan.
Dengan penciptaan SWF sebesar 200 Miliar US Dollar, yang disebut dengan China Investment Corporation, Beijing memposisikan dirinya lebih ke investasi ekuitas (walaupun investasi pada Blackstone Group dan Morgan Stanley mendapatkan kritikan). Andy Xie seorang ekonom dari Morgan Stanly memberikan usulan bahwa pemerintah seharusnya menjual asset US Dollarnya dalam bentuk kepemilikan di perusahaan AS dalam skala besar, menantang AS untuk menyelesaikan masalah keetakutan untuk mencegah bencana kekurangan kapitalisasi
Namun banyak masyarakat di China mulai dari blogger yang nasionalis sampai dengan aktivis keadilan sosial memberikan kritikannya pada cadangan devisa yang sangat besar dari China. Mengapa harus membantu memberikan pembiayaan kepada ekonomi AS yang berbasiskan utang, ketika kebutuhan rumah tangga sendiri masih jauh dari yang diharapkan? China merupakan salah satu masyarakat yang egaliter pada akhir tahun 1985. Hari ini China mengalami permasalahan adanya gap antara si kaya dan si miskin. Hari ini gaya kapitalisme di China mempertontonkan perlawanannya pada ajaran dasar Konfusius yaitu: jangan khawatir terhadap kemiskinan, khawatirlah terhadap ketidakadilan.
Perkembangan pesat infrastruktur fisik di kota-kota di China yang mengalami modernisasi yang luar biasa namun infrastruktur sosial dan lingkungan yang hancur, terutama populasi di pedesaan dan daerah terpencil. Bertahun-tahun pemerintah pusat bicara mengenai keharmonisan sosial melalui system baru yaitu sistem layanan bersama kesehatan di pedesaan, melalui peningkatan anggaran untuk pendidikan menjadi 4% dari GDP dan menghilangkan SPP pendidikan, dan mengimplementasikan program pengembangan yang berkesinambungan. Janji ini begitu besar, tetapi tindakan pemerintah belum sepenuhnya terealisasi. Dan biaya ekonomi karena keterbatasan akses kepada kesehatan, pendidikan di atas minimnya air bersih & sumber air akan menyebabkan kerusakan dalam jangka menengah dan jangka panjang.
Tantangan bagi China di masa yang akan datang adalah melepaskan diri untuk pembiayaan utang AS dan memulai investasi pada kesehatan, pendidikan, dan lingkungan bagi masyarakatnya. Pertumbuhan ekonomi tahunan mendekati 10% mejadi hal yang mudah.
Kamis, 08 April 2010
latar belakang PI
A. Latar belakang masalah
Untuk memulai suatu usaha sebuah perusahaan harus memiliki modal atau dana, dengan sendirinya semakin berkembangnya suatu perusahaan, maka semakin besar pula modal atau dana yang dibutuhkan oleh suatu perusahaan.
Dana merupakan sumber daya yang sangat penting bagi setiap perusahaan dan sumber dana yang dimiliki oleh perusahaan go-public salah satunya dapat diperoleh dari penjualan saham yang dimiliki perusahaan tersebut. Menjual saham atau bagian kepemilikan perusahaan ke public akan memberikan banyak manfaat, selain dana yang relatif murah, cara ini tidak membebani perusahaan dengan kewajiban periodik membayar bunga dan disamping itu perusahaan tidak perlu menyediakan agunan seperti bila perusahaan meminjam dari lembaga keuangan.
Pasar modal merupakan salah satu indikator kemajuan perekonomian suatu Negara dan keberadaan pasar modal dapat menunjang perkembangan ekonomi Negara yang bersangkutan. Dengan adanya pasar modal dapat merangsang akan semakin banyak perusahaan yang go-public. Dari sisi peningkatan kualitas perusahaan publik yang beroperasi harus bersifat terbuka, yang berarti dari segi manajemen perusahaan dituntut untuk pengelolaan secara profesional karena adanya sorotan dan pandangan dari masyarakat luas.
Bursa efek Indonesia (BEI) merupakan salah satu alternative perolehan dana yang makin lama makin banyak dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia. Disamping dana yang dapat di peroleh dari pihak perbankan, perusahaan dapat memperoleh dana dari bursa efek Indonesia (BEI) dengan cara menerbitkan dan menjual saham kepada investor, dengan penjualan saham tersebut pihak perusahaan harus memberikan laba atau keuntungan berupa dividen kepada para pemegang saham.
Investor saham dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu ; kelompok pertama yang disebut juga dengan “buy and hold” dan kelompok yang kedua “buy and sell”. Kelompok “buy and hold” adalah investor yang membeli saham untuk disimpan atau dimiliki dalam jangka waktu yang panjang dan pendapatan yang diharapkan oleh para investor kelompok pertama adalah dividen, baik dividen saham maupun dividen tunai (kas). Dengan demikian informasi mengenai dividen sangat dibutuhkan oleh kelompok ini karena menyangkut pendapatan yang diharapkan. Sedangkan investor yang dikategorikan sebagai kelompok “buy and sell” adalah investor yang membeli saham tetapi tidak untuk memiliki dalam jangka panjang melainkan untuk dijual kembali, dan pendapatan atau keuntungan yang diharapkan oleh kelompok ini adalah berupa capital gain yaitu selisih antara harga beli dengan harga jual saham tersebut.
Bagi pemegang saham, pemberian dividen oleh perusahaan merupakan hal yang sangat penting dalam pertumbuhan perusahaan karena dividen merupakan salah satu motivator untuk menanamkan dana di pasar modal dan juga dapat mengevaluasi kinerja perusahaan dengan menilai besarnya dividen yang dibagikan. Pemegang saham ingin mengetahui berapa laba bersih yang diperoleh perusahaan karena mereka telah menginvestasikan dana untuk perusahan tersebut, dan berapa dividen yang akan dibagikan kepada mereka. Di lain pihak pemberian dividen dimaksudkan oleh perusahaan untuk menujukkan suatu bukti kepada para pemegang saham, bahwa pihak manajemen atau perusahaan bersungguh-sungguh berusaha untuk mensejahterakan pemegang saham, di samping untuk memperlihatkan kinerja perusahaan.
Seperti yang telah diuraikan diatas pada dasarnya ada dua keuntungan yang diperoleh investor dengan membeli saham yaitu dividen dan capital gain. Dividen dibagikan setelah mendapat persetujuan dari para pemegang saham melalui rapat umum pemegang saham (RUPS). Dividen yang lazim dibagikan perusahaan terdiri atas dividen saham dan dividen tunai, dividen saham adalah dividen yang berupa penambahan atas saham yang diberikan oleh emiten atas saham yang telah dimiliki oleh investor tersebut, sedangkan dividen tunai (kas) adalah dividen yang berupa uang tunai yang diberikan oleh emiten.
Keputusan untuk memberikan dividen kepada pemegang saham melibatkan dua pihak yang saling berbeda kepentingan yaitu perusahaan dan pemegang saham. Perusahaan ingin agar laba yang dibagikan sebagai dividen dalam jumlah yang kecil sehingga sebagian besar laba dapat ditahan dalam perusahaan, agar dana yang tersedia untuk investasi menjadi lebih besar. Namun di pihak lain pemegang saham ingin sebaliknya yaitu memperoleh dividen yang besar.
Dalam melakukan investasi di pasar modal investor atau pemegang saham mengharapkan dividen yang diberikan perusahaan dapat tumbuh seiring dengan pertumbuhan perusahaan. Untuk itu para investor membutuhkan indikator-indikator yang dapat dipakai untuk menjelaskan faktor-faktor apa yang mempengaruhi dividen.
Ada banyak pertimbangan yang harus dilakukan perusahaan sebelum memutuskan pemberian dividen kepada pemegang saham. Pertimbangan itu adalah tersedianya kas, posisi likuiditas, kesempatan dan tujuan perusahaan dihubungkan dengan pertumbuhan modal dan ekspansi, serta kebijakan perusahaan mengenai pembiayaan eksternal atau kemampuan perusahaan untuk mendapatkan dana dari pihak luar (Hendriksen dan breda 2000) .
Kas yang tersedia dari hasil operasi perusahaan merupakan kas yang dapat digunakan kembali untuk kegiatan investasi, membayar utang dan atau membayar dividen, dll. Pertumbuhan modal perusahaan ditentukan oleh laba bersih yang diperoleh perusahaan dikurangi dengan dividen yang dibagikan kepada pemegang saham.
Laba bersih (net income) sering dinyatakan sebagai suatu indikasi kemampuan perusahaan membayar dividen, hal itu benar apabila manajemen mendasarkan pemberian dividen secara ketat atas porsi atau bagian tertentu dari laba bersih secara tetap. Salah satu kelemahan terbesar dari laba bersih sebagai prediktor dividen di masa yang akan datang adalah sulitnya melakukan penandingan (matching) yang tepat antara beban (expenses) dengan pendapatan (revenue) akibat sifat prosedur alokasi yang arbitrer atau acak sehingga laba bersih yang dihasilkan menjadi bias.
Alternative lain yang dapat digunakan sebagai predictor dividen adalah dengan menggunakan arus kas (cash flow). Penggunaan arus kas dapat menghindari alokasi sehingga diharapkan prediksi atas dividen dapat dilakukan dengan lebih baik. Penggunaan arus kas historis juga memiliki kelemahan sebagai prediktor dividen dimasa yang akan datang, kerena banyak arus kas termasuk dividen yang saling tergantung antara satu dengan yang lainnya, misalkan kas yang tersedia atau penerimaan kas yang diharapkan dapat digunakan untuk pengeluaran modal, atau membayar hutang atau membayar dividen.
Menentukan jumlah yang tepat untuk pendistribusian dividen adalah hal yang sulit dalam pengambilan keputusan manajemen. Perusahaan–perusahaan yang membayar dividen cenderung menolak untuk mengurangi jumlah dividen karena hal ini dapat menggundang reaksi negativ dari pasar sekuritas, konsekuensinya perusahaan yang membayar dalam bentuk dividen kas akan berupaya untuk terus dapat melakukannya.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka penulis merasa perlu dan ingin mengangkat permasalahan tersebut sebagai penulisan skripsi dengan judul “Pengaruh Laba Bersih dan Arus Kas dari aktivitas operasi terhadap Kebijakan Dividen Tunai pada PT. Mustika Ratu, Tbk“.
Untuk memulai suatu usaha sebuah perusahaan harus memiliki modal atau dana, dengan sendirinya semakin berkembangnya suatu perusahaan, maka semakin besar pula modal atau dana yang dibutuhkan oleh suatu perusahaan.
Dana merupakan sumber daya yang sangat penting bagi setiap perusahaan dan sumber dana yang dimiliki oleh perusahaan go-public salah satunya dapat diperoleh dari penjualan saham yang dimiliki perusahaan tersebut. Menjual saham atau bagian kepemilikan perusahaan ke public akan memberikan banyak manfaat, selain dana yang relatif murah, cara ini tidak membebani perusahaan dengan kewajiban periodik membayar bunga dan disamping itu perusahaan tidak perlu menyediakan agunan seperti bila perusahaan meminjam dari lembaga keuangan.
Pasar modal merupakan salah satu indikator kemajuan perekonomian suatu Negara dan keberadaan pasar modal dapat menunjang perkembangan ekonomi Negara yang bersangkutan. Dengan adanya pasar modal dapat merangsang akan semakin banyak perusahaan yang go-public. Dari sisi peningkatan kualitas perusahaan publik yang beroperasi harus bersifat terbuka, yang berarti dari segi manajemen perusahaan dituntut untuk pengelolaan secara profesional karena adanya sorotan dan pandangan dari masyarakat luas.
Bursa efek Indonesia (BEI) merupakan salah satu alternative perolehan dana yang makin lama makin banyak dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia. Disamping dana yang dapat di peroleh dari pihak perbankan, perusahaan dapat memperoleh dana dari bursa efek Indonesia (BEI) dengan cara menerbitkan dan menjual saham kepada investor, dengan penjualan saham tersebut pihak perusahaan harus memberikan laba atau keuntungan berupa dividen kepada para pemegang saham.
Investor saham dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu ; kelompok pertama yang disebut juga dengan “buy and hold” dan kelompok yang kedua “buy and sell”. Kelompok “buy and hold” adalah investor yang membeli saham untuk disimpan atau dimiliki dalam jangka waktu yang panjang dan pendapatan yang diharapkan oleh para investor kelompok pertama adalah dividen, baik dividen saham maupun dividen tunai (kas). Dengan demikian informasi mengenai dividen sangat dibutuhkan oleh kelompok ini karena menyangkut pendapatan yang diharapkan. Sedangkan investor yang dikategorikan sebagai kelompok “buy and sell” adalah investor yang membeli saham tetapi tidak untuk memiliki dalam jangka panjang melainkan untuk dijual kembali, dan pendapatan atau keuntungan yang diharapkan oleh kelompok ini adalah berupa capital gain yaitu selisih antara harga beli dengan harga jual saham tersebut.
Bagi pemegang saham, pemberian dividen oleh perusahaan merupakan hal yang sangat penting dalam pertumbuhan perusahaan karena dividen merupakan salah satu motivator untuk menanamkan dana di pasar modal dan juga dapat mengevaluasi kinerja perusahaan dengan menilai besarnya dividen yang dibagikan. Pemegang saham ingin mengetahui berapa laba bersih yang diperoleh perusahaan karena mereka telah menginvestasikan dana untuk perusahan tersebut, dan berapa dividen yang akan dibagikan kepada mereka. Di lain pihak pemberian dividen dimaksudkan oleh perusahaan untuk menujukkan suatu bukti kepada para pemegang saham, bahwa pihak manajemen atau perusahaan bersungguh-sungguh berusaha untuk mensejahterakan pemegang saham, di samping untuk memperlihatkan kinerja perusahaan.
Seperti yang telah diuraikan diatas pada dasarnya ada dua keuntungan yang diperoleh investor dengan membeli saham yaitu dividen dan capital gain. Dividen dibagikan setelah mendapat persetujuan dari para pemegang saham melalui rapat umum pemegang saham (RUPS). Dividen yang lazim dibagikan perusahaan terdiri atas dividen saham dan dividen tunai, dividen saham adalah dividen yang berupa penambahan atas saham yang diberikan oleh emiten atas saham yang telah dimiliki oleh investor tersebut, sedangkan dividen tunai (kas) adalah dividen yang berupa uang tunai yang diberikan oleh emiten.
Keputusan untuk memberikan dividen kepada pemegang saham melibatkan dua pihak yang saling berbeda kepentingan yaitu perusahaan dan pemegang saham. Perusahaan ingin agar laba yang dibagikan sebagai dividen dalam jumlah yang kecil sehingga sebagian besar laba dapat ditahan dalam perusahaan, agar dana yang tersedia untuk investasi menjadi lebih besar. Namun di pihak lain pemegang saham ingin sebaliknya yaitu memperoleh dividen yang besar.
Dalam melakukan investasi di pasar modal investor atau pemegang saham mengharapkan dividen yang diberikan perusahaan dapat tumbuh seiring dengan pertumbuhan perusahaan. Untuk itu para investor membutuhkan indikator-indikator yang dapat dipakai untuk menjelaskan faktor-faktor apa yang mempengaruhi dividen.
Ada banyak pertimbangan yang harus dilakukan perusahaan sebelum memutuskan pemberian dividen kepada pemegang saham. Pertimbangan itu adalah tersedianya kas, posisi likuiditas, kesempatan dan tujuan perusahaan dihubungkan dengan pertumbuhan modal dan ekspansi, serta kebijakan perusahaan mengenai pembiayaan eksternal atau kemampuan perusahaan untuk mendapatkan dana dari pihak luar (Hendriksen dan breda 2000) .
Kas yang tersedia dari hasil operasi perusahaan merupakan kas yang dapat digunakan kembali untuk kegiatan investasi, membayar utang dan atau membayar dividen, dll. Pertumbuhan modal perusahaan ditentukan oleh laba bersih yang diperoleh perusahaan dikurangi dengan dividen yang dibagikan kepada pemegang saham.
Laba bersih (net income) sering dinyatakan sebagai suatu indikasi kemampuan perusahaan membayar dividen, hal itu benar apabila manajemen mendasarkan pemberian dividen secara ketat atas porsi atau bagian tertentu dari laba bersih secara tetap. Salah satu kelemahan terbesar dari laba bersih sebagai prediktor dividen di masa yang akan datang adalah sulitnya melakukan penandingan (matching) yang tepat antara beban (expenses) dengan pendapatan (revenue) akibat sifat prosedur alokasi yang arbitrer atau acak sehingga laba bersih yang dihasilkan menjadi bias.
Alternative lain yang dapat digunakan sebagai predictor dividen adalah dengan menggunakan arus kas (cash flow). Penggunaan arus kas dapat menghindari alokasi sehingga diharapkan prediksi atas dividen dapat dilakukan dengan lebih baik. Penggunaan arus kas historis juga memiliki kelemahan sebagai prediktor dividen dimasa yang akan datang, kerena banyak arus kas termasuk dividen yang saling tergantung antara satu dengan yang lainnya, misalkan kas yang tersedia atau penerimaan kas yang diharapkan dapat digunakan untuk pengeluaran modal, atau membayar hutang atau membayar dividen.
Menentukan jumlah yang tepat untuk pendistribusian dividen adalah hal yang sulit dalam pengambilan keputusan manajemen. Perusahaan–perusahaan yang membayar dividen cenderung menolak untuk mengurangi jumlah dividen karena hal ini dapat menggundang reaksi negativ dari pasar sekuritas, konsekuensinya perusahaan yang membayar dalam bentuk dividen kas akan berupaya untuk terus dapat melakukannya.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka penulis merasa perlu dan ingin mengangkat permasalahan tersebut sebagai penulisan skripsi dengan judul “Pengaruh Laba Bersih dan Arus Kas dari aktivitas operasi terhadap Kebijakan Dividen Tunai pada PT. Mustika Ratu, Tbk“.
Rabu, 24 Maret 2010
Pembentukan Persekutuan
Persekutuan adalah suatu perserikatan yang terdiri dari dua orang atau lebih yang menyelenggarakan usaha bersama untuk mencari laba. Salah satu ciri hukum dari persekutuan adalah umumnya yang terbatas. kelangsungan hidup persekutuan berakhir dengan masuknya sekutu baru, pengunduran diri atau meninggalnya sekutu lama, disolusi secara sukarela oleh sekutu atau disolusi secara terpaksa misalnya karena bangkrut. Ciri hukum lain dari persekutuan adalah agensi mutual (agensi yang saling menguntungkan). Setiap sekutu dianggap sebagai agen bagi seluruh kegiatan persekutuan dengan kekuatan yang mengikat sekutu lainnya melalui aktivitas yang dilakukannya atas nama persekutuan
PROSEDUR PEMBUKUAN FIRMA
Pembentukan persekutuan di antara 2 orang atau lebih yang masing2 hanya menyerahkan setoran modalnya dalam bentuk uang ataua barang kepada persekutuan yang membuat pembukuan tersendiri, tidak banyak mengalami kesulitan. Tetapi apabila persekutuan didirikan dengan menggabungkan beberapa perusahaan yang sudah berjalan, maka biasanya timbul beberapa persoalan, antar lain :
* Apabila persekutuan akan menggunakan catatan pembukuan dengan melanjutkan catatan pembukuan dari salah satu perusahaan.
* Apabila perubahan atau penilaian tertentu terhadap posisi aktiva, hutang dan modal dari masing-masing perusahaaan yang akan digabungkan perlu diadakan atau tidak.
PROSEDUR PEMBUKUAN FIRMA
Pembentukan persekutuan di antara 2 orang atau lebih yang masing2 hanya menyerahkan setoran modalnya dalam bentuk uang ataua barang kepada persekutuan yang membuat pembukuan tersendiri, tidak banyak mengalami kesulitan. Tetapi apabila persekutuan didirikan dengan menggabungkan beberapa perusahaan yang sudah berjalan, maka biasanya timbul beberapa persoalan, antar lain :
* Apabila persekutuan akan menggunakan catatan pembukuan dengan melanjutkan catatan pembukuan dari salah satu perusahaan.
* Apabila perubahan atau penilaian tertentu terhadap posisi aktiva, hutang dan modal dari masing-masing perusahaaan yang akan digabungkan perlu diadakan atau tidak.
Sabtu, 06 Maret 2010
Konverjensi ke IFRS di Indonesia
Indonesia saat ini belum mewajibkan bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia menggunakan IFRS melainkan masih mengacu kepada standar akuntansi keuangan lokal. Dewan Pengurus Nasional IAI bersama-sama dengan Dewan Konsultatif SAK dan Dewan SAK merencanakan tahun 2012 akan menerapkan standar akuntansi yang mendekati konvergensi penuh kepada IFRS.
Dari data-data di atas kebutuhan Indonesia untuk turut serta melakukan program konverjensi tampaknya sudah menjadi keharusan jika kita tidak ingin tertinggal. Sehingga, dalam perkembangan penyusunan standar akuntansi di Indonesia oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) tidak dapat terlepas dari perkembangan penyusunan standar akuntansi internasional yang dilakukan oleh International Accounting Standards Board (IASB). Standar akuntansi keuangan nasional saat ini sedang dalam proses secara bertahap menuju konverjensi secara penuh dengan International Financial Reporting Standards yang dikeluarkan oleh IASB. Adapun posisi IFRS/IAS yang sudah diadopsi hingga saat ini dan akan diadopsi pada tahun 2009 dan 2010 adalah seperti yang tercantum dalam daftar- daftar berikut ini.
Tabel 1:
IFRS/IAS yang Telah Diadopsi ke dalam PSAK hingga 31 Desember 2008
1. IAS 2 Inventories
2. IAS 10 Events after balance sheet date
3. IAS 11 Construction contracts
4. IAS 16 Property, plant and equipment
5. IAS 17 Leases
6. IAS 18 Revenues
7. IAS 19 Employee benefits
8. IAS 23 Borrowing costs
9. IAS 32 Financial instruments: presentation
10. IAS 39 Financial instruments: recognition and measurement
11. IAS 40 Investment propert
Tabel 2:
IFRS/IAS yang Akan Diadopsi ke dalam PSAK pada Tahun 2009
1. IFRS 2 Share-based payment
2. IFRS 4 Insurance contracts
3. IFRS 5 Non-current assets held for sale and discontinued operations
4. IFRS 6 Exploration for and evaluation of mineral resources
5. IFRS 7 Financial instruments: disclosures
6. IAS 1 Presentation of financial statements
7. IAS 27 Consolidated and separate financial statements
8. IAS 28 Investments in associates
9. IFRS 3 Business combination
10. IFRS 8 Segment reporting
11. IAS 8 Accounting policies, changes in accounting estimates and errors
12. IAS 12 Income taxes
13. IAS 21 The effects of changes in foreign exchange rates
14. IAS 26 Accounting and reporting by retirement benefit plans
15. IAS 31 Interests in joint ventures
16. IAS 36 Impairment of assets
17. IAS 37 Provisions, contingent liabilities and contingent assets
18. IAS 38 Intangible assets
Tabel 3:
IFRS/IAS yang Akan Diadopsi ke dalam PSAK pada Tahun 2010
1. IAS 7 Cash flow statements
2. IAS 20 Accounting for government grants and disclosure of government assistance
3. IAS 24 Related party disclosures
4. IAS 29 Financial reporting in hyperinflationary economies
5. IAS 33 Earning per share
6. IAS 34 Interim financial reporting
7. IAS 41 Agriculture
Dan untuk hal-hal yang tidak diatur standar akuntansi internasional, DSAK akan terus mengembangkan standar akuntansi keuangan untuk memenuhi kebutuhan nyata di Indonesia, terutama standar akuntansi keuangan untuk transaksi syariah, dengan semakin berkembangnya usaha berbasis syariah di tanah air. Landasan konseptual untuk akuntansi transaksi syariah telah disusun oleh DSAK dalam bentuk Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah. Hal ini diperlukan karena transaksi syariah mempunyai karakteristik yang berbeda dengan transaksi usaha umumnya sehingga ada beberapa prinsip akuntansi umum yang tidak dapat diterapkan dan diperlukan suatu penambahan prinsip akuntansi yang dapat dijadikan landasan konseptual. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan untuk transaksi syariah akan dimulai dari nomor 101 sampai dengan 200. (SY)
Dari data-data di atas kebutuhan Indonesia untuk turut serta melakukan program konverjensi tampaknya sudah menjadi keharusan jika kita tidak ingin tertinggal. Sehingga, dalam perkembangan penyusunan standar akuntansi di Indonesia oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) tidak dapat terlepas dari perkembangan penyusunan standar akuntansi internasional yang dilakukan oleh International Accounting Standards Board (IASB). Standar akuntansi keuangan nasional saat ini sedang dalam proses secara bertahap menuju konverjensi secara penuh dengan International Financial Reporting Standards yang dikeluarkan oleh IASB. Adapun posisi IFRS/IAS yang sudah diadopsi hingga saat ini dan akan diadopsi pada tahun 2009 dan 2010 adalah seperti yang tercantum dalam daftar- daftar berikut ini.
Tabel 1:
IFRS/IAS yang Telah Diadopsi ke dalam PSAK hingga 31 Desember 2008
1. IAS 2 Inventories
2. IAS 10 Events after balance sheet date
3. IAS 11 Construction contracts
4. IAS 16 Property, plant and equipment
5. IAS 17 Leases
6. IAS 18 Revenues
7. IAS 19 Employee benefits
8. IAS 23 Borrowing costs
9. IAS 32 Financial instruments: presentation
10. IAS 39 Financial instruments: recognition and measurement
11. IAS 40 Investment propert
Tabel 2:
IFRS/IAS yang Akan Diadopsi ke dalam PSAK pada Tahun 2009
1. IFRS 2 Share-based payment
2. IFRS 4 Insurance contracts
3. IFRS 5 Non-current assets held for sale and discontinued operations
4. IFRS 6 Exploration for and evaluation of mineral resources
5. IFRS 7 Financial instruments: disclosures
6. IAS 1 Presentation of financial statements
7. IAS 27 Consolidated and separate financial statements
8. IAS 28 Investments in associates
9. IFRS 3 Business combination
10. IFRS 8 Segment reporting
11. IAS 8 Accounting policies, changes in accounting estimates and errors
12. IAS 12 Income taxes
13. IAS 21 The effects of changes in foreign exchange rates
14. IAS 26 Accounting and reporting by retirement benefit plans
15. IAS 31 Interests in joint ventures
16. IAS 36 Impairment of assets
17. IAS 37 Provisions, contingent liabilities and contingent assets
18. IAS 38 Intangible assets
Tabel 3:
IFRS/IAS yang Akan Diadopsi ke dalam PSAK pada Tahun 2010
1. IAS 7 Cash flow statements
2. IAS 20 Accounting for government grants and disclosure of government assistance
3. IAS 24 Related party disclosures
4. IAS 29 Financial reporting in hyperinflationary economies
5. IAS 33 Earning per share
6. IAS 34 Interim financial reporting
7. IAS 41 Agriculture
Dan untuk hal-hal yang tidak diatur standar akuntansi internasional, DSAK akan terus mengembangkan standar akuntansi keuangan untuk memenuhi kebutuhan nyata di Indonesia, terutama standar akuntansi keuangan untuk transaksi syariah, dengan semakin berkembangnya usaha berbasis syariah di tanah air. Landasan konseptual untuk akuntansi transaksi syariah telah disusun oleh DSAK dalam bentuk Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah. Hal ini diperlukan karena transaksi syariah mempunyai karakteristik yang berbeda dengan transaksi usaha umumnya sehingga ada beberapa prinsip akuntansi umum yang tidak dapat diterapkan dan diperlukan suatu penambahan prinsip akuntansi yang dapat dijadikan landasan konseptual. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan untuk transaksi syariah akan dimulai dari nomor 101 sampai dengan 200. (SY)
Pengendalian Internal, Manajemen Risiko dan Tata Kelola Perusahaan
Pengendalian Internal, Manajemen Risiko dan Tata Kelola Perusahaan
A. Pengendalian Internal
Awal Munculnya COCO Internal Control Framework
Untuk memahami bagaimana standar pengendalian internal ini muncul, kita perlu menelaah ke belakang pada tahun 1970-an awal 1980-an, sebuah periode terjadi banyak failures pada perusahaan di Amerika Serikat. Hal ini disebabkan oleh tingginya inflasi karena tingginya tingkat bunga dan biaya energi akibat peraturan pemerintahyang berlebihan, tetapi sebagian juga disebabkan karena kecurangan atas laporan keuangan. Failures tersebut kelihatan kecil apabila dibandingkan dengan kasus Enron dan WorldCom yang terjadi tahun 2001-2002, tetapi pada saat itu menimbulkan perhatian yang besar.
Pada saat itu, beberapa perusahaan besar mengalami kebangkrutan finansial dalam jangka waktu singkat setelah diterbitkannya laporan keuangan auditan yang menunjukan pendapatan yang memadai. Oleh karena itu dibentuklah suatu komisi nasional untuk mempelajari masalah tersebut.
5 organisasi profesional Amerika Serikat menjadi sponsor dari komisi tersebut :
1. Institute of internal auditors
2. The american institute of certified public accountant
3. The financial executive institute
4. The American accounting association
5. Institute of management accountant
Komisi ini kemudian membentuk suatu panitia yang kemudian dikenal dengan nama The Committee of Sponsoring Organisation of Treadway Commission. Komite ini yang memperkenalkan istilah COSO yang merupakan kependekan dari The committee of Sponsoring Organization.
Laporan yang pertama dari komite ini, yang diterbitkan pada tahun 1987 menghendaki adanya laporan manajemen terhadap keefektifan sistem pengendalian internal control yang konsisten dan karenanya memperkenalkan apa yang disebut COSO definition of internal control, yang saat ini paling banyak diterima oleh berbagai kalangan secara luas. COSO mendifinisikan internal control sebagai berikut :
A process, effected by an entity’s board of directors, management, and other personnel, designed to provide reasonable assurance regarding the achievement of objectives in the following categories :
Effectivess and efficiencial reporting
Reliability of financial reporting
Compliance with applicable laws and regulation
Selanjutnya pada September 1992 COSO menerbitkan laporannya tentang internal control framework yang bertujuan memberikan kerangka kerja secara umum atas definisi internal control sekaligus prosedur untuk mengevaluasi controls tersebut.
A. Pengendalian Internal
Awal Munculnya COCO Internal Control Framework
Untuk memahami bagaimana standar pengendalian internal ini muncul, kita perlu menelaah ke belakang pada tahun 1970-an awal 1980-an, sebuah periode terjadi banyak failures pada perusahaan di Amerika Serikat. Hal ini disebabkan oleh tingginya inflasi karena tingginya tingkat bunga dan biaya energi akibat peraturan pemerintahyang berlebihan, tetapi sebagian juga disebabkan karena kecurangan atas laporan keuangan. Failures tersebut kelihatan kecil apabila dibandingkan dengan kasus Enron dan WorldCom yang terjadi tahun 2001-2002, tetapi pada saat itu menimbulkan perhatian yang besar.
Pada saat itu, beberapa perusahaan besar mengalami kebangkrutan finansial dalam jangka waktu singkat setelah diterbitkannya laporan keuangan auditan yang menunjukan pendapatan yang memadai. Oleh karena itu dibentuklah suatu komisi nasional untuk mempelajari masalah tersebut.
5 organisasi profesional Amerika Serikat menjadi sponsor dari komisi tersebut :
1. Institute of internal auditors
2. The american institute of certified public accountant
3. The financial executive institute
4. The American accounting association
5. Institute of management accountant
Komisi ini kemudian membentuk suatu panitia yang kemudian dikenal dengan nama The Committee of Sponsoring Organisation of Treadway Commission. Komite ini yang memperkenalkan istilah COSO yang merupakan kependekan dari The committee of Sponsoring Organization.
Laporan yang pertama dari komite ini, yang diterbitkan pada tahun 1987 menghendaki adanya laporan manajemen terhadap keefektifan sistem pengendalian internal control yang konsisten dan karenanya memperkenalkan apa yang disebut COSO definition of internal control, yang saat ini paling banyak diterima oleh berbagai kalangan secara luas. COSO mendifinisikan internal control sebagai berikut :
A process, effected by an entity’s board of directors, management, and other personnel, designed to provide reasonable assurance regarding the achievement of objectives in the following categories :
Effectivess and efficiencial reporting
Reliability of financial reporting
Compliance with applicable laws and regulation
Selanjutnya pada September 1992 COSO menerbitkan laporannya tentang internal control framework yang bertujuan memberikan kerangka kerja secara umum atas definisi internal control sekaligus prosedur untuk mengevaluasi controls tersebut.
Selasa, 05 Januari 2010
GOOD EXPERIENCE AND BAD EXPERIENCE
GOOD EXPERIENCE AND BAD EXPERIENCE
First I have there is a which sudden near by is same of me. don't know where from my soybean cake him. I recognize annoyed once because my him often in making angry is same of old fellow even I lazy to sudden make to learn because my confused mind once. oppositely; also he have bothered my family until I am [in] making angry big family from my old fellow. even I have no friend, he/she assess my semester even also go down merely one who have made my just bell!
At the time of me fallen down in problem of which I face there is a good, attention, is same darling of me. first I recognize him merely pass just sms or telvon. although I recognize him sufficiently long, but there is different from x'self he is my moment in face of problem until I first have no friend which is near by. only him which always my support and awaken from problem of that I face in adding darling friend start my support also.
Since then I recognize near by is same of my him feel is same just balmy of him because him I can be rich like this can the spirit of learning. because him also I am many friend again. hitherto even also I feel to like, is same balmy of him. I render thanks many is same of him. do not know if not there is him I cannot make money out like this.
First I have there is a which sudden near by is same of me. don't know where from my soybean cake him. I recognize annoyed once because my him often in making angry is same of old fellow even I lazy to sudden make to learn because my confused mind once. oppositely; also he have bothered my family until I am [in] making angry big family from my old fellow. even I have no friend, he/she assess my semester even also go down merely one who have made my just bell!
At the time of me fallen down in problem of which I face there is a good, attention, is same darling of me. first I recognize him merely pass just sms or telvon. although I recognize him sufficiently long, but there is different from x'self he is my moment in face of problem until I first have no friend which is near by. only him which always my support and awaken from problem of that I face in adding darling friend start my support also.
Since then I recognize near by is same of my him feel is same just balmy of him because him I can be rich like this can the spirit of learning. because him also I am many friend again. hitherto even also I feel to like, is same balmy of him. I render thanks many is same of him. do not know if not there is him I cannot make money out like this.
customer
In each; every sure effort there is its risk is including facing sigh of consumer, as producer we have to be bright give product which both for can in accepting among wide of. like effort which I is run this time is effort sell sembako, very often just consumer there is which complain for example have silver him rice to, rotten egg, its gasometer cannot in tide or leak. but we always try to give best make consumer because sigh of consumer is correction for us.
Langganan:
Postingan (Atom)