Jumat, 12 November 2010

CRS lifebuoy

Menurut The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) definisi corporate social responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan adalah komitmen bisnis untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan para karyawan perusahaan, keluarga karyawan, dan masyarakat setempat (lokal) dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan (Suhardi, 2005). Secara singkat dapat disimpulkan bahwa CSR merupakan tanggung jawab dan kewajiban perusahaan untuk mengatasi permasalahan sosial dalam rangka membantu mewujudkan kemandirian dan keberdayaan komuniti dimana perusahaan tersebut beroperasi.

Belum adanya standar konsep CSR yang seragam di dunia, telah menyebabkan tiap perusahaan melakukan CSR menurut definisinya masing-masing. Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini adalah munculnya iklan CSR dari beberapa produk yang yang mengklaim akan mendonasikan sejumlah nominal tertentu dari harga produk tersebut untuk dialokasikan pada kegiatan-kegiatan sosialnya.

Sabun mandi Lifebuoy sudah lebih dulu melakukan iklan yang demikian dibanding produk lain, melalui temanya Lifebuoy berbagi sehat. Program tersebut sudah dilaksanakan sejak tahun 2004 dalam rangka menumbuhkan pengetahuan dan memasyarakatkan kebiasaan hidup sehat. Dalam iklannya Lifebuoy menyatakan menyumbang Rp 10,- untuk sarana kebersihan. Statement lainnya yaitu dengan membeli Lifebuoy berarti anda menyumbang untuk kesehatan.

Sejauh mana urgensi implementasi CSR dan bentuk CSR yang diharapkan masyarakat luas terutama konsumen di Indonesia sesungguhnya masih menjadi tanda tanya besar mengingat masih minimnya penelitian yang melihat sejauh mana konsumen di Indonesia aware terhadap isu CSR. Selain itu, muncul juga pertanyaan apakah etis jika isu CSR digunakan sebagai bagian dari komunikasi pemasaran, misalnya dalam iklan produk.

Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah yang dikaji adalah bagaimana pemahaman konsumen mengenai isu tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR), bagaimana persepsi konsumen terhadap iklan sabun Lifebuoy yang mengaitkan isu CSR dalam iklannya dan tanggapannya terhadap citra produk sabun Lifebuoy, bagaimana dampak dari informasi kegiatan CSR perusahaan melalui iklan sabun Lifebuoy terhadap perilaku konsumen, dan bagaimana rekomendasi strategi pengembangan kegiatan CSR Lifebuoy.

Penelitian dilakukan di Kota Bogor, pada bulan Agustus hingga Oktober 2007. Responden adalah konsumen pengguna dan bukan pengguna sabun Lifebuoy yang mengetahui iklan sabun Lifebuoy. Responden yang diambil sebanyak 150 orang yang ditentukan berdasarkan penentuan jumlah sampel dengan populasi terhingga. Responden diperoleh berdasarkan teknik pengambilan sampel secara multistage random sampling yang melibatkan simple random sampling, systematic random sampling, dan convenience sampling. Sampel penelitian ini adalah konsumen yang berada di kota Bogor. Unit measurement dalam penelitian ini adalah responden yang berusia antara 18-55 tahun dari semua tingkat ekonomi.

Pengolahan data yang digunakan adalah analisis deskriptif untuk melihat profil responden dan karakteristik responden, evaluasi atribut untuk mengukur persepsi terhadap iklan Lifebuoy berbagi sehat, sikap terhadap CSR dan sikap terhadap produk. Tabulasi silang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel yang diuji dengan variabel profil responden, sedangkan hubungan antara variabel yang diteliti dengan perilaku konsumen dan profil responden digunakan uji chi-square.

Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar responden berumur antara 18-25 tahun, tingkat pendidikan terakhir S1, dengan status pernikahan belum menikah. Responden masih berstatus pelajar/mahasiswa dan pegawai baik pegawai negeri, swasta, BUMN, dan NGO/LSM. Pengeluaran konsumsi rata-rata responden paling banyak berkisar antara Rp 500.000 - Rp 1.000.000. Responden mengaku status tempat tinggal saat ini adalah milik sendiri.

Pemahaman responden terhadap maksud atau arti dari CSR yaitu, tanggung jawab atau kepedulian pihak perusahaan terhadap masyarakat sekitar operasi perusahaan (33,01%), yang dituangkan dalam bentuk kegiatan-kegiatan sosial yang dapat bermanfaat bagi masyarakat. Contohnya masalah sanitasi, beasiswa, bantuan sandang/pangan, sunatan massal, dan lainnya. Selain itu, menurut responden CSR berarti tanggung jawab atau kepedulian perusahaan terhadap lingkungan sekitarnya (28,16%). Responden memperoleh informasi tentang CSR paling banyak melalui televisi, koran dan majalah. Sumber lain yang juga memberikan informasi tentang CSR, yaitu melalui perkuliahan (di kampus), seminar-seminar CSR, dan internet.

Responden baik yang menyatakan paham maupun tidak paham terhadap isu CSR diminta untuk menunjukkan sikapnya (sangat setuju - sangat tidak setuju) terhadap pernyataan mengenai program CSR yang dilakukan oleh suatu perusahaan. Responden memberikan pernyataan sangat setuju dengan persentase relatif tinggi pada pernyataan bahwa CSR merupakan kewajiban dan tanggung jawab perusahaan kepada masyarakat dan lingkungan (58,67%). Sebanyak 62,67 persen responden setuju bahwa kegiatan CSR harus melibatkan partisipasi stakeholders (masyarakat, konsumen, karyawan, NGO, pemerintah) dan 60,00 persen beranggapan CSR harus menjadi implementasi nilai-nilai perusahaan. Responden tidak setuju jika CSR hanya dijadikan alat untuk memperoleh bahan baku dan alat-alat untuk produksi perusahaan (20,00%) dan media untuk mengurangi gangguan masyarakat (14,67%).

Iklan sabun mandi yang pertama kali muncul dibenak responden (top of mind) dalam penelitian ini ternyata adalah iklan sabun Lux (46,00%) dan iklan sabun Lifebuoy (43,33%). Sementara responden lainnya menyebutkan beberapa iklan sabun lain yaitu, Nuvo, Dettol, Dove, Shinzui, dan Biore. Sebagian besar responden (54,18%) menyatakan bahwa mereka melihat iklan tersebut melalui media televisi. Sedangkan media lainnya yang juga menjadi sumber informasi antara lain majalah (17,09%), koran (9,09%), spanduk (7,64%), radio (6,91%), leaflet/brosur (2,91%), lainnya melalui teman (2,18%).

Setelah dilakukan evaluasi mengenai persepsi responden terhadap iklan Lifebuoy berbagi sehat diperoleh hasil iklannya mudah dimengerti, unik, disukai, informatif, dan dapat dipercaya. Sementara untuk pernyataan apakah iklan tersebut menyentuh atau tidak, responden cenderung beranggapan biasa saja. Responden juga beranggapan bahwa iklan Lifebuoy berbagi sehat tidak lucu (tidak bersifat humor).

Melalui analisis tabulasi silang dan uji Chi-square diperoleh hasil terdapat hubungan antara tingkat kesetujuan terhadap iklan dengan citra produk. Responden yang setuju dan sangat setuju terhadap iklan sabun Lifebuoy berbagi sehat cenderung beranggapan positif terhadap citra produk sabun Lifebuoy. Sedangkan responden yang tidak setuju terhadap iklan sabun Lifebuoy berbagi sehat cenderung beranggapan negatif dan tidak memberi tanggapan terhadap citra produk sabun Lifebuoy.

Merek sabun mandi yang paling banyak digunakan ternyata adalah Lux (34,67%), Lifebuoy (26,67%), dan Dettol (10,00%). Merek sabun lain yang juga digunakan responden (24,67%) antara lain: Giv, Nuvo, Dove, Shinzui, Medicare, Sulfur, Biore, Gatsby, Imperial, dan Ekstraderm.

Responden pengguna sabun Lifebuoy mengaku puas (60,34%) dan sangat puas (18,97%) dengan produk yang digunakannya saat ini. Bahkan 87,93 persen pengguna mengatakan mereka telah menggunakan produk tersebut lebih dari satu tahun. Ketika mereka diminta untuk menyebutkan apa yang ada dipikirannya jika mendengar merek sabun Lifebuoy, maka 35 persen responden mengatakan sabun kesehatan.

Analisis hubungan antara pengetahuan konsumen mengenai informasi CSR melalui iklan sabun lifebuoy berbagi sehat terhadap perilaku konsumen dilakukan dengan menggunakan analisis tabulasi silang dan uji Chi-square. Hasil uji terhadap variabel tahu iklan vs penggunaan sabun Lifebuoy diperoleh hasil yang tidak signifikan pada taraf 5%. Disimpulkan, bahwa tidak ada hubungan antara mengetahui iklan Lifebuoy berbagi sehat dengan kecendrungan penggunaan sabun Lifebuoy. Responden yang tahu maupun tidak tahu iklan Lifebuoy berbagi sehat memiliki kecendrungan yang sama dalam hal penggunaan sabun Lifebuoy.

Terdapat hubungan antara tahu iklan yang berkampanye donasi sekian rupiah untuk CSR dengan penggunaan produk. Responden yang mengetahui iklan cenderung tertarik dan sangat tertarik untuk menggunakan produk yang berkampanye bahwa sekian rupiah dari pembelian akan digunakan untuk kegiatan CSR. Sebaliknya responden yang menjawab tidak cenderung bersikap biasa saja.

Tidak terdapat hubungan antara tahu iklan Lifebuoy berbagi sehat dengan sikap konsumen pengguna sabun Lifebuoy untuk pindah ke produk sabun merek lain yang juga berkampanye CSR. Responden pengguna beranggapan bahwa kecendrungan untuk pindah merek lebih dipengaruhi oleh faktor kecocokan terhadap produk yang digunakan.

Ada hubungan antara tahu iklan Lifebuoy berbagi sehat dengan ketertarikan mengikuti kegiatan sosial dalam rangka CSR yang dilakukan perusahaan. Responden yang menjawab tahu iklan Lifebuoy berbagi sehat cenderung tertarik dan sangat tertarik untuk mengikuti kegiatan sosial dalam rangka CSR yang dilakukan perusahaan. Sebaliknya, yang menjawab tidak tahu cenderung bersikap biasa saja dan tidak tertarik.

Responden paling banyak memberikan saran kegiatan CSR kepada produsen sabun Lifebuoy sehubungan pelayanan kampanye kesehatan, pembangunan sarana air bersih, dan beasiswa pendidikan. Menurut responden sebaiknya pelaksana program CSR adalah perusahaan bekerjasama dengan pihak ketiga.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan untuk melakukan penelitian mengenai citra perusahaan (PT UI) yang melakukan kegiatan CSR dengan menggunakan masyarakat penerima manfaat langsung sebagai responden. Mengingat belum adanya aturan yang jelas dan seragam tentang pelaksanaan CSR maka alangkah baiknya jika perusahaan (PT UI) memisahkan secara jelas iklan produk untuk kegiatan pemasaran dengan kampanye CSR. Sebaiknya kegiatan CSR Lifebuoy berikutnya lebih diarahkan pada kegiatan yang bersifat community development dan untuk jangka panjang, sehingga dampaknya lebih nyata dan menyentuh masyarakat yang menjadi sasaran. Diharapkan pada penelitian berikutnya wilayah yang dijadikan lokasi penelitian dapat lebih luas sehingga sampel penelitian lebih mewakili masyarakat luas baik pengguna maupun bukan pengguna sabun Lifebuoy.

cv (surat lamaran)

Data Pribadi
Nama: Ratih Puspita Galih
Gender: Female
Tempat, tanggal lahir memberikan: Majalengka, Juni 16,1989
Civic: Indonesia
Status Perkawinan: Single
Agama: Islam
Lengkap Alamat: Jl. Kalibata Raya Gg. Langgar Rt 03/10
No.38 Jak-Sel 12750
Telepon, HP: (021) 7991435
E-Mail: glhali16@yahoo.co.id
Pendidikan

"Formal

1. SDN Rawajati 03 pagi, Tahun 2001, di tingkat
2. Empang Tiga SLTPN 182, Tahun 2004. dalam derajat
3. SMAN 55 Duren Tiga, Tahun 2007, di tingkat
4. Masih Terdaftar di Universitas Gunadarma

Pengalaman Kerja
• Tidak ada
Itu cara curriculum vitae, saya buat dengan benar-benar dan digunakan sebagai harus dia


Hormat kami,


Galih Puspita Ratih
Simak
Baca secara fonetik

Minggu, 24 Oktober 2010

the big four

The Big Four adalah empat internasional terbesar akuntansi dan profesional jasa perusahaan, yang menangani sebagian besar audit bagi perusahaan diperdagangkan publik serta banyak perusahaan swasta , menciptakan oligopoli dalam audit perusahaan besar. The Big Four perusahaan ditampilkan di bawah ini, dengan data terbaru mereka publik yang tersedia: Perusahaan Pendapatan Karyawan Tahun Anggaran Sumber
PricewaterhouseCoopers $ 26.2bn 163.000 2009 [1]
Deloitte Touche Tohmatsu $ 26.1bn 169.000 2009 [2]
Ernst & Young $ 21.4bn 144.441 2009 [3]
KPMG $ 20.11bn 135.000 2009 [4]

Kelompok ini dulunya dikenal sebagai Big “Delapan”, dan dikurangi dengan “Big Five” oleh serangkaian merger . Big Five menjadi Big Four setelah kematian-dekat dari Arthur Andersen pada tahun 2002, menyusul keterlibatannya dalam skandal Enron .

== Hukum adalah sebuah perusahaan tunggal. Setiap jaringan perusahaan, dimiliki dan dikelola secara independen, yang telah mengadakan perjanjian dengan perusahaan-perusahaan anggota lain di dalam jaringan untuk berbagi nama yang sama, merek dan kualitas standar. Setiap jaringan telah membentuk suatu entitas untuk mengkoordinasikan kegiatan jaringan. Dalam dua kasus (KPMG dan Deloitte Touche Tomatsu), yang mengkoordinasi entitas Swiss, dan dalam dua kasus (PricewaterhouseCoopers, dan Ernst & Young) yang mengkoordinasi Inggris entitas adalah perusahaan terbatas . Entitas sendiri tidak praktik akuntansi, dan tidak memiliki atau mengontrol perusahaan-perusahaan anggota.

Dalam kebanyakan kasus praktek setiap anggota perusahaan dalam satu negara, dan disusun untuk memenuhi peraturan lingkungan di negara itu. Namun, pada tahun 2007 KPMG mengumumkan merger empat perusahaan anggota (di Britania Raya, Jerman, Swiss dan Liechtenstein) untuk membentuk sebuah perusahaan tunggal.

Angka-angka dalam artikel ini mengacu pada pendapatan gabungan dari setiap jaringan perusahaan.

Merger dan Auditor Big

Sejak 1989, merger dan satu skandal besar yang melibatkan Arthur Andersen telah mengurangi jumlah perusahaan akuntansi utama 8-4.

Big 8 (sampai 1989)

Perusahaan yang disebut Big 8 untuk sebagian besar abad ke-20, yang mencerminkan dominasi internasional dari delapan perusahaan akuntansi terbesar:
Arthur Andersen
Arthur Young & Co
Coopers & Lybrand
Ernst & Whinney (sampai tahun 1979 Ernst & Ernst di AS dan Whinney Murray di Inggris)
Deloitte Haskins & Sells (hingga tahun 1978 Haskins & Sells di AS dan Deloitte Plender Griffiths di Inggris)
Gambut Marwick Mitchell , kemudian Gambut Marwick
Price Waterhouse
Touche Ross

Sebagian besar berasal Big 8 aliansi yang terbentuk antara Inggris dan perusahaan akuntansi Amerika Serikat pada abad ke-19 atau awal 20. Price Waterhouse adalah perusahaan Inggris yang membuka kantor AS pada tahun 1890 dan kemudian membentuk kemitraan AS terpisah. Inggris dan AS Gambut Marwick Mitchell perusahaan mengadopsi nama yang umum pada tahun 1925. nama perusahaan lain yang digunakan terpisah untuk bisnis dalam negeri, dan tidak mengadopsi nama-nama umum sampai lama kemudian: Touche Ross pada tahun 1960, Arthur Young (di Young Arthur pertama, McLelland Moores) pada tahun 1968, Coopers & Lybrand pada tahun 1973, Deloitte Haskins & Sells pada tahun 1978 dan Ernst & Whinney pada tahun 1979. [5]

awal internasional ekspansi perusahaan ‘tersebut didorong oleh kebutuhan dari Inggris dan AS berdasarkan perusahaan multinasional untuk layanan di seluruh dunia. Mereka diperluas dengan membentuk kemitraan lokal atau dengan membentuk aliansi dengan perusahaan-perusahaan lokal.

Arthur Andersen memiliki sejarah yang berbeda. Perusahaan berasal dari Amerika Serikat, dan dikembangkan secara internasional dengan mendirikan kantor sendiri di pasar lain, termasuk Britania Raya.

Pada 1980-an Big 8, masing-masing sekarang dengan merek global, diadopsi pemasaran modern dan tumbuh pesat. Mereka bergabung dengan perusahaan yang lebih kecil. Salah satu yang terbesar merger ini pada tahun 1987, ketika Gambut Marwick bergabung dengan Grup KMG menjadi KPMG Peat Marwick, kemudian dikenal hanya sebagai KPMG.

Big 6 (1989-1998)

Persaingan antara perusahaan-perusahaan akuntansi publik ditingkatkan dan Big 8 berubah menjadi the Big 6 tahun 1989 pada saat Ernst & Whinney bergabung dengan Arthur Young membentuk Ernst & Young di bulan Juni dan Deloitte, Haskins & Sells bergabung dengan Touche Ross membentuk Deloitte & Touche di bulan Agustus .

Membingungkan, di United Kingdom perusahaan lokal dari Deloitte, Haskins & Sells bergabung dengan Coopers & bukan Lybrand. Selama beberapa tahun setelah merger, perusahaan gabungan itu disebut Coopers & Lybrand Deloitte dan perusahaan lokal Touche Ross tetap memakai nama aslinya. Pada pertengahan 1990-an Namun, kedua perusahaan Inggris berganti nama menjadi cocok dengan masing-masing organisasi internasional. Di sisi lain, di Australia perusahaan lokal Touche Ross bergabung dengan KPMG bukan. [6] [7] Hal ini untuk alasan-alasan bahwa Deloitte & Touche organisasi internasional dikenal sebagai DRT Internasional (kemudian DTT Internasional), untuk menghindari penggunaan nama-nama yang akan ambigu (dan juga diperebutkan) di pasar tertentu.

Big 5 (1998-2001)

The Big 6 menjadi 5 besar pada bulan Juli 1998 pada saat Price Waterhouse bergabung dengan Coopers & Lybrand untuk membentuk PricewaterhouseCoopers .

Big 4 (2002 -)

The Enron runtuh dan investigasi berikutnya diminta pengawasan pelaporan keuangan mereka, yang telah diaudit oleh Arthur Andersen , yang akhirnya didakwa untuk terhalangnya keadilan untuk merobek-robek dokumen yang terkait dengan audit dalam skandal Enron 2001 . Keyakinan yang dihasilkan, sejak terbalik, masih efektif berarti akhir untuk Arthur Andersen. Sebagian besar praktek negara di seluruh dunia telah dijual kepada anggota yang kini The Big Four, khususnya Ernst & Young global, Deloitte & Touche di Inggris dan Kanada, dan PricewaterhouseCoopers di China dan Hong Kong.

Big 4 kadang-kadang disebut sebagai “Final Four” [8] karena persepsi yang diadakan secara luas bahwa regulator kompetisi tidak mungkin untuk memungkinkan konsentrasi lebih lanjut industri akuntansi dan bahwa perusahaan lain tidak akan bisa bersaing dengan Big 4 untuk bekerja sebagai ujung atas ada persepsi pasar bahwa mereka tidak kredibel sebagai auditor atau penasihat untuk perusahaan-perusahaan terbesar.

2002 melihat bagian dari Sarbanes-Oxley Act menjadi undang-undang, memberikan aturan kepatuhan yang ketat untuk kedua perusahaan dan auditor.
Merger dan perkembangan
(2001) Arthur Andersen
Dikembangkan dari Andersen, Delany
Ernst & Young (1989)
Young Arthur (1968)
Ernst & Whinney (1979)
Ernst & Ernst (US)
Whinney Murray (Inggris)
Whinney, Smith & Whinney
PricewaterhouseCoopers (1998)
Coopers & Lybrand (1973)
Cooper Brothers (Inggris)
Lybrand, Ross Bros, Montgomery (US)
Price Waterhouse
Deloitte Touche Tohmatsu
Deloitte & Touche (1989)
Deloitte Haskins & Sells (1978)
Deloitte Plender Griffiths (Inggris)
Haskins & Sells (US)
Touche Ross (1960)
Touche, Ross, Bailey & Smart
Ross, Touche (Kanada)
George A. Touche (Inggris)
Touche, Niven, Bailey & Smart (US)
Touche Niven
Kebun istana
AR Smart
Tohmatsu & Co (Jepang)
KPMG (1987)
Peat Marwick Mitchell (1925)
William Barclay Gambut (Inggris)
Marwick Mitchell (US)
KMG
Klynveld Goerdeler Utama
Klynveld Kraayenhof (Belanda)
McLintock Thomson (Inggris)
Utama Lafrentz (US)
Deutsche Gesellschaft Treuhand (Jerman)

Sebuah tahun pada akhir tahun menunjukkan pembentukan melalui merger atau adopsi dari nama merek tunggal. Sebuah tahun awal menunjukkan tanggal penutupan berfungsi atau pergi dari menonjol.

Kebijakan tentang masalah konsentrasi industri

Dalam bangun dari konsentrasi industri dan individu kegagalan perusahaan, masalah struktur industri alternatif yang kredibel telah dibangkitkan. [9] The faktor pembatas terhadap pertumbuhan perusahaan tambahan adalah bahwa meskipun beberapa perusahaan dalam tingkatan berikutnya telah menjadi cukup besar , dan telah membentuk jaringan internasional, efektif semua perusahaan publik sangat besar berusaha keras untuk memiliki sebuah “Big Four” audit, sehingga perusahaan-perusahaan kecil tidak memiliki cara untuk tumbuh menjadi ujung atas pasar.

Republik Rakyat Cina
Di Republik Rakyat China, empat besar perusahaan akuntansi yang berafiliasi dengan kantor akuntan lokal seperti di bawah peraturan pemerintah saat ini sangat dilarang untuk perusahaan asing untuk membuka perusahaan yang dimiliki sepenuhnya di Cina.
Pricewaterhouse Zhong Tian berafiliasi dengan PricewaterhouseCoopers.
Zhen Hua KPMG berafiliasi dengan KPMG.
Ernst & Young Min Hua berafiliasi dengan Ernst & Young.
DTT Hua Yong mempunyai afiliasi dengan DTT.

Yordania
1 – Ernst & Young

2 – Deloitte Touche Tohmatsu

3 – KPMG

4 – PWC

Mesir
Di Mesir , para “Big auditor perusahaan “adalah lokal afiliasi dari Jaringan Big perusahaan internasional:

1 – Hazem Hassan – KPMG . [10]
2 – Mostafa Shawki & Co – MAZARS [11]
3 – Mansour & Co – PricewaterhouseCoopers .
4 – Saleh Kamel – Deloitte Touche Tohmatsu (DTT).
5 – Ragheb Emad – Ernst & Young .

Indonesia
Di Indonesia , ada empat auditor besar, semua adalah afiliasi dari The Big Four:
KAP Purwantono, Sarwoko, Sandjaja – afiliasi dari Ernst & Young
KAP Osman Bing Satrio – Deloitte Touche Tohmatsu (DTT) [12]
KAP Sidharta, Widjaja – afiliasi dari KPMG
KAP Haryanto Sahari & Rekan – afiliasi dari PwC

Israel
Di Israel , ada lima auditor besar, empat di antaranya adalah afiliasi dari The Big Four: [13]
Kost, Forer, Gabbay & Kasierer (Ernst & Young Israel)
KPMG Somekh Chaikin
Deloitte Brightman Almagor Zohar
Kesselman & Kesselman, PwC Israel
BDO Ziv tangkai (afiliasi dari BDO International )

Jepang
Di Jepang , para “Big Four auditor” adalah afiliasi lokal dari perusahaan internasional Big Four:
Ernst & Young ShinNihon LLC – afiliasi dari Ernst & Young
KPMG AZSA & Co – afiliasi dari KPMG
PricewaterhouseCoopers Aarata – afiliasi dari PricewaterhouseCoopers
Deloitte Touche Tohmatsu – afiliasi dari Deloitte Touche Tohmatsu (DTT)

nama Inggris dari setiap perusahaan yang berbeda dari Jepang. Ernst & Young ShinNihon LLC adalah ‘ShinNihon Yugen-sekinin Kansa Houjin 新 日本 有限 责任 监 查 法人,’ KPMG AZSA & Co adalah ‘Azsa Kansa Houjin あずさ 監査 法人,’ PricewaterhouseCoopers Aarata adalah ‘Aarata Kansa Houjin あらた 監査 法人,’ dan Deloitte Touche Tohmatsu adalah ‘Kansa Houjin Tohmatsu 監査 法人 トーマツ. “

Setelah penemuan penipuan akuntansi di Kanebo , dengan Badan Jasa Keuangan di Jepang dihentikan ChuoAoyama dari melakukan pekerjaan audit untuk kontrol internal yang tidak memadai, selama dua bulan mulai tanggal 1 Juli 2006 dan seterusnya. Pada tanggal 1 Juli 2006, PwC memulai sebuah perusahaan akuntansi baru di Jepang, disebut PricewaterhouseCoopers Aarata. Tidak seperti ChuoAoyama (nama Misuzu kemudian) [14] , yang merupakan perusahaan jaringan PwC, PricewaterhouseCoopers Aarata adalah perusahaan anggota jaringan global PwC dan akan menerapkan pengendalian internal dan metodologi. [15] Misuzu Audit Corp dilarutkan dalam 2007 setelah salah satu klien audit, Nikko Cordial, perusahaan stockbrokerage, terkena dengan skandal akuntansi. [16]

Singapura
Di Singapura , perusahaan afiliasi dari The Big Four adalah:
PricewaterhouseCoopers LLP
Ernst & Young LLP
KPMG LLP
Deloitte Touche Tohmatsu LLP

Malaysia
Di Malaysia , perusahaan afiliasi lokal telah mengadopsi nama-nama perusahaan internasional Big Four:
PricewaterhouseCoopers
Ernst & Young
KPMG
Deloitte KassimChan – anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu (DTT)

Republik Korea
Perusahaan akuntansi berikut domestik telah bergabung dengan keanggotaan dari Big Four perusahaan internasional.
Hanyoung LLC – anggota Ernst & Young
Samjong LLC – anggota KPMG
Samil LLC – anggota dari PricewaterhouseCoopers
Ahnjin LLC – anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu (DTT)

Brasil
1 – PricewaterhouseCoopers

2 – Deloitte Touche Tohmatsu

3 – Ernst & Young

4 – KPMG

Arab Saudi
Dalam Arab Saudi , “Big Four auditor” adalah afiliasi lokal dari perusahaan-perusahaan internasional Big Four;
Deloitte & Touche Bakar Abulkhair & Co – anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu (DTT)
PricewaterhouseCoopers AlJuraid – anggota dari PricewaterhouseCoopers
Ernst & Young Arab Saudi – anggota Ernst & Young
KPMG Al Fozan & Al Sadhan – anggota KPMG

Turki
Di Turki , para “Big Four auditor” adalah afiliasi lokal dari perusahaan-perusahaan internasional Big Four;
Ve Güney Bagimsiz Denetim SMMAS – anggota Ernst & Young,
Akis Bagimsiz Denetim ve SMMAS – afiliasi dari KPMG,
Basaran Nas Bagimsiz Denetim ve SMMAS – afiliasi dari PwC
DRT Bagimsiz Denetim ve SMMAS – afiliasi dari Deloitte Touche Tohmatsu (DTT)

Selain empat besar, ada perusahaan afiliasi lain yang memiliki hubungan afiliasi afiliasi lebih lemah dibandingkan empat besar.

India
Di India, perusahaan-perusahaan anggota tidak diijinkan untuk mengubah nama mereka agar sesuai dengan merek internasional. [17] Perusahaan-perusahaan lokal adalah:
Price Waterhouse, anggota PwC
Deloitte Haskins & Sells, anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu (DTT)
BSR & Co, anggota KPMG
SR Batliboi & Co, SR Batliboi & Associates & SV Ghatalia & Associates perusahaan anggota dari Ernst & Young

Pakistan
Di Pakistan , The Big Four adalah afiliasi dari audit perusahaan lokal berikut, yang merupakan perusahaan terkemuka di Pakistan:
Ernst & Young (Pakistan) – Dahulu Ford Rhodes sidat Hyder & Co [18]
KPMG Taseer Hadi & Co – anggota KPMG Internasional [19]
M. Yousuf Adil Saleem & Co – anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu (DTT) [20]
AF Ferguson & Co – Anggota PricewaterhouseCoopers [21]

Filipina
Di Filipina , perusahaan afiliasi dari The Big Four adalah:
Manabat Delgado Amper & Co (sebelumnya CL Manabat & Co) – afiliasi dari Deloitte Touche Tohmatsu (DTT)
Isla Lipana & Co (sebelumnya Joaquin Cunanan & Co) – afiliasi dari PwC
Manabat Sanagustin & Co (sebelumnya Laya Mananghaya & Co) – afiliasi dari KPMG
Sycip Gorres Velayo & Co ( SGV & Co ) – afiliasi dari Ernst & Young

Sri Lanka
Di Sri Lanka perusahaan afiliasi dari empat besar adalah:
SJMS Associates
KPMG
Ernst & Young
PricewaterhouseCoopers
BDO Mitra

Swedia
Ernst & Young (sebelumnya Hagstrom & Olsson)
Öhrlings PricewaterhouseCoopers (sebelumnya Öhrlings Reveko)
Deloitte Touche Tohmatsu (sebelumnya Trg Revisi)
KPMG (sebelumnya Bohlins revisionsbyrå)

Meksiko
Galaz, Yamazaki, Ruiz Urquiza, SC, anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu [22]
Ernst & Young [23]
México PricewaterhouseCoopers [24]
KPMG Cárdenas Dosal, SC, anggota KPMG International Koperasi [25]
Argentina
Sibille – Afiliasi KPMG Koperasi Internasional [26]
Deloitte & Co SRL [27]
PricewaterhouseCoopers [28]
Ernst & Young [29]

pengertian kode etik

Pengertian Dalam Etika Profesi

1.1 Pengertian Etika dan Etika Profesi
Kata etik (atau etika) berasal dari kata ethos
(bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik.
Menurut Martin [1993], etika didefinisikan sebagai “the discipline which can act as the performance index or reference for our control system”.
Etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan “self control”, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok sosial(profesi) itu sendiri.
Kehadiran organisasi profesi dengan perangkat “built-in mechanism” berupa kode etik profesi dalam hal ini jelas akan diperlukan untuk menjaga martabat serta kehormatan profesi, dan di sisi lain melindungi masyarakat dari segala bentuk penyimpangan maupun penyalah-gunaan keahlian (Wignjosoebroto, 1999).
Sebuah profesi hanya dapat memperoleh kepercayaan dari masyarakat, bilamana dalam diri para elit profesional tersebut ada kesadaran kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukannya.

1.2 Etika dan Estetika
Etika disebut juga filsafat moral adalah cabang filsafat yang berbicara tentang praxis (tindakan) manusia. Etika tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan mempersoalkan bagaimana manusia harus bertindak. Tindakan manusia ini ditentukan oleh bermacam-macam norma.

Norma ini masih dibagi lagi menjadi norma hukum, norma moral, norma agama dan norma sopan santun. Norma hukum berasal dari hukum dan perundang- undangan, norma agama berasal dari agama sedangkan norma moral berasal dari suara batin. Norma sopan santun berasal dari kehidupan sehari-hari sedangkan norma moral berasal dari etika.

1.3 Etika dan Etiket
Etika (ethics) berarti moral sedangkan etiket (etiquette) berarti sopan santun. Persamaan antara etika dengan etiket yaitu:
• Etika dan etiket menyangkut perilaku manusia. Istilah tersebut dipakai mengenai manusia tidak mengenai binatang karena binatang tidak mengenal etika maupun etiket.
• Kedua-duanya mengatur perilaku manusia secara normatif artinya memberi norma bagi perilaku manusia dan dengan demikian menyatakan apa yag harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Justru karena sifatnya normatif maka kedua istilah tersebut sering dicampuradukkan.

Perbedaan antara etika dengan etiket
1. Etiket menyangkut cara melakukan perbuatan manusia. Etiket menunjukkan cara yang tepat artinya cara yang diharapkan serta ditentukan dalam sebuah kalangan tertentu.Etika tidak terbatas pada cara melakukan sebuah perbuatan, etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut masalah apakah sebuah perbuatan boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan.
2. Etiket hanya berlaku untuk pergaulan.Etika selalu berlaku walaupun tidak ada orang lain. Barang yang dipinjam harus dikembalikan walaupun pemiliknya sudah lupa.
3. Etiket bersifat relatif. Yang dianggap tidak sopan dalam sebuah kebudayaan, dapat saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain.Etika jauh lebih absolut. Perintah seperti “jangan berbohong”, “jangan mencuri” merupakan prinsip etika yang tidak dapat ditawar-tawar.
4. Etiket hanya memadang manusia dari segi lahiriah saja sedangkan etika memandang manusia dari segi dalam. Penipu misalnya tutur katanya lembut, memegang etiket namun menipu. Orang dapat memegang etiket namun munafik sebaliknya seseorang yang berpegang pada etika tidak mungkin munafik karena seandainya dia munafik maka dia tidak bersikap etis. Orang yang bersikap etis adalah orang yang sungguh-sungguh baik.

1.4 Etika dan Ajaran Moral
Etika perlu dibedakan dari moral. Ajaran moral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat pada sekelompok manusia. Ajaran moral mengajarkan bagaimana orang harus hidup. Ajaran moral merupakan rumusan sistematik terhadap anggapan tentang apa yang bernilai serta kewajiban manusia.

Etika merupakan ilmu tentang norma, nilai dan ajaran moral. Etika merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran moral. Pemikiran filsafat mempunyai 5 ciri khas yaitu bersifat rasional, kritis, mendasar, sistematik dan normatif (tidak sekadar melaporkan pandangan moral melainkan menyelidiki bagaimana pandangan moral yang sebenarnya).

Pluralisme moral diperlukan karena:
1. pandangan moral yang berbeda-beda karena adanya perbedaan suku,daerah budaya dan agama yang hidup berdampingan;
2. modernisasi membawa perubahan besar dalam struktur dan nilai kebutuhan masyarakat yang akibatnya menantang pandangan moral tradisional;
3. berbagai ideologi menawarkan diri sebagai penuntun kehidupan, masing-masing dengan ajarannya sendiri tentang bagaimana manusia harus hidup.
Etika sosial dibagi menjadi:
• Sikap terhadap sesama;
• Etika keluarga;
• Etika profesi, misalnya etika untuk dokumentalis, pialang informasi;
• Etika politik;
• Etika lingkungan hidup; serta
• Kritik ideologi.

Moralitas
Ajaran moral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat di antara sekelompok manusia. Adapun nilai moral adalah kebaikan manusia sebagai manusia.

Norma moral adalah tentang bagaimana manusia harus hidup supaya menjadi baik sebagai manusia. Ada perbedaan antara kebaikan moral dan kebaikan pada umumnya. Kebaikan moral merupakan kebaikan manusia sebagai manusia sedangkan kebaikan pada umumnya merupakan kebaikan manusia dilihat dari satu segi saja, misalnya sebagai suami atau isteri.

Moral berkaitan dengan moralitas. Moralitas adalah sopan santun, segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau sopan santun. Moralitas dapat berasal dari sumber tradisi atau adat, agama atau sebuah ideologi atau gabungan dari beberapa sumber.

Pluralisme moral
Etika bukan sumber tambahan moralitas melainkan merupakan filsafat yang mereflesikan ajaran moral. Pemikiran filsafat mempunyai lima ciri khas yaitu rasional, kritis, mendasar, sistematik dan normatif.

Rasional berarti mendasarkan diri pada rasio atau nalar, pada argumentasi yang bersedia untuk dipersoalkan tanpa perkecualian. Kritis berarti filsafat ingin mengerti sebuah masalah sampai ke akar-akarnya, tidak puas dengan pengertian dangkal. Sistematis artinya membahas langkah demi langkah. Normatif menyelidiki bagaimana pandangan moral yang seharusnya.
Etika dan Agama
Etika tidak dapat menggantikan agama. Agama merupakan hal yang tepat untuk memberikan orientasi moral. Pemeluk agama menemukan orientasi dasar kehidupan dalam agamanya. Akan tetapi agama itu memerlukan ketrampilan etika agar dapat memberikan orientasi, bukan sekadar indoktrinasi. Hal ini disebabkan empat alasan sebagai berikut:
1. Orang agama mengharapkan agar ajaran agamanya rasional. Ia tidak puas mendengar bahwa Tuhan memerintahkan sesuatu, tetapi ia juga ingin mengerti mengapa Tuhan memerintahkannya. Etika dapat membantu menggali rasionalitas agama.
2. Seringkali ajaran moral yang termuat dalam wahyu mengizinkan interpretasi yang saling berbeda dan bahkan bertentangan.
3. Karena perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan masyarakat maka agama menghadapi masalah moral yang secara langsung tidak disinggung- singgung dalam wahyu. Misalnya bayi tabung, reproduksi manusia dengan gen yang sama.
4. Adanya perbedaan antara etika dan ajaran moral. Etika mendasarkan diri pada argumentasi rasional semata-mata sedangkan agama pada wahyunya sendiri. Oleh karena itu ajaran agama hanya terbuka pada mereka yang mengakuinya sedangkan etika terbuka bagi setiap orang dari semua agama dan pandangan dunia.

1.5 Istilah berkaitan
Kata etika sering dirancukan dengan istilah etiket, etis, ethos, iktikad dan kode etik atau kode etika. Etika adalah ilmu yang mempelajari apa yang baik dan buruk. Etiket adalah ajaran sopan santun yang berlaku bila manusia bergaul atau berkelompok dengan manusia lain. Etiket tidak berlaku bila seorang manusia hidup sendiri misalnya hidup di sebuah pulau terpencil atau di tengah hutan.
Etis artinya sesuai dengan ajaran moral, misalnya tidak etis menanyakan usia pada seorang wanita. Ethos artinya sikap dasar seseorang dalam bidang tertentu. Maka ada ungkapan ethos kerja artinya sikap dasar seseorang dalam pekerjaannya, misalnya ethos kerja yang tinggi artinya dia menaruh sikap dasar yang tinggi terhadap pekerjaannya. Kode atika atau kode etik artinya daftar kewajiban dalam menjalankan tugas sebuah profesi yang disusun oleh anggota profesi dan mengikat anggota dalam menjalankan tugasnya.


PROFESI, KODE ETIK DAN PROFESIONALISME

Definisi Profesi:
Profesi merupakan kelompok lapangan kerja yang khusus melaksanakan kegiatan yang memerlukan ketrampilan dan keahlian tinggi guna memenuhi kebutuhan yang rumit dari manusia, di dalamnya pemakaian dengan cara yang benar akan ketrampilan dan keahlian tinggi, hanya dapat dicapai dengan dimilikinya penguasaan pengetahuan dengan ruang lingkup yang luas, mencakup sifat manusia, kecenderungan sejarah dan lingkungan hidupnya; serta adanya disiplin etika yang dikembangkan dan diterapkan oleh kelompok anggota yang menyandang profesi tersebut.

Tiga (3) Ciri Utama Profesi
1. Sebuah profesi mensyaratkan pelatihan ekstensif sebelum memasuki sebuah profesi;
2. Pelatihan tersebut meliputi komponen intelektual yang signifikan;
3. Tenaga yang terlatih mampu memberikan jasa yang penting kepada masyarakat.

Tiga (3) Ciri Tambahan Profesi
1. Adanya proses lisensi atau sertifikat;
2. Adanya organisasi;
3. Otonomi dalam pekerjaannya.

Tiga Fungsi dari Kode Etik Profesi
1. Kode etik profesi memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas yang digariskan;
2. Kode etik profesi merupakan sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang bersangkutan;
3. Kode etik profesi mencegah campur tangan pihak diluar organisasi profesi tentang hubungan etika dalam keanggotaan profesi

Etika terbagi atas 2 bidang besar
1. Etika umum
1.1 Prinsip;
1.2 Moral.
2. Etika khusus
2.1 Etika Individu;
2.2 Etika Sosial.

Etika sosial yang hanya berlaku bagi kelompok profesi tertentu disebut kode etika atau kode etik.

Kode Etik

Kode etik adalah sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik, dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi profesional. Kode etik menyatakan perbuatan apa yang benar atau salah, perbuatan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari.
Tujuan kode etik agar profesional memberikan jasa sebaik-baiknya kepada pemakai atau nasabahnya. Adanya kode etik akan melindungi perbuatan yang tidak profesional.
Sifat Kode Etik Profesional

Sifat dan orientasi kode etik hendaknya:
1. Singkat;
2. Sederhana;
3. Jelas dan Konsisten;
4. Masuk Akal;
5. Dapat Diterima;
6. Praktis dan Dapat Dilaksanakan;
7. Komprehensif dan Lengkap, dan
8. Positif dalam Formulasinya.

Orientasi Kode Etik hendaknya ditujukan kepada:
1. Rekan,
2. Profesi,
3. Badan,
4. Nasabah/Pemakai,
5. Negara, dan
6. Masyarakat.
Kode Etik Ilmuwan Informasi

Pada tahun 1895 muncullah istilah dokumentasi sedangkan orang yang bergerak dalam bidang dokumentasi menyebut diri mereka sebagai dokumentalis, digunakan di Eropa Barat.

Di AS, istilah dokumentasi diganti menjadi ilmu informasi; American Documentation Institute (ADI) kemudian diganti menjadi American Society for Information (ASIS). ASIS Professionalism Committee yang membuat rancangan ASIS Code of Ethics for Information Professionals.

Kode etik yang dihasilkan terdiri dari preambul dan 4 kategori pertanggungan jawab etika, masing-masing pada pribadi, masyarakat, sponsor, nasabah atau atasan dan pada profesi.

Kesulitan menyusun kode etik menyangkut (a) apakah yang dimaksudkan dengan kode etik dan bagaimana seharunya; (b) bagaimana kode tersebut akan digunakan; (c) tingkat rincian kode etik dan (d) siapa yang menjadi sasaran kode etik dan kode etik diperuntukkan bagi kepentingan siapa.

Profesionalisme

Profesionalisme adalah suatu paham yang mencitakan dilakukannya kegiatan-kegiatan kerja tertentu dalam masyarakat, berbekalkan keahlian yang tinggi dan berdasarkan rasa keterpanggilan –serta ikrar untuk menerima panggilan tersebut– dengan semangat pengabdian selalu siap memberikan pertolongan
kepada sesama yang tengah dirundung kesulitan di tengah gelapnya kehidupan
(Wignjosoebroto, 1999).

Tiga Watak Kerja Profesionalisme
1. kerja seorang profesional itu beritikad untuk merealisasikan kebajikan demi tegaknya kehormatan profesi yang digeluti, dan oleh karenanya tidak terlalu mementingkan atau mengharapkan imbalan upah materiil;
2. kerja seorang profesional itu harus dilandasi oleh kemahiran teknis yang berkualitas tinggi yang dicapai melalui proses pendidikan dan/atau pelatihan yang panjang, ekslusif dan berat;
3. kerja seorang profesional –diukur dengan kualitas teknis dan kualitas moral– harus menundukkan diri pada sebuah mekanisme kontrol berupa kode etik yang dikembangkan dan disepakati bersama di dalam sebuah organisasi profesi.

Menurut Harris [1995] ruang gerak seorang profesional ini akan diatur melalui etika profesi yang distandarkan dalam bentuk kode etik profesi. Pelanggaran terhadap kode etik profesi bisa dalam berbagai bentuk, meskipun dalam praktek yang umum dijumpai akan mencakup dua kasus utama, yaitu:
a. Pelanggaran terhadap perbuatan yang tidak mencerminkan respek terhadap nilai-nilai yang seharusnya dijunjung tinggi oleh profesi itu. Memperdagangkan jasa atau membeda-bedakan pelayanan jasa atas dasar keinginan untuk mendapatkan keuntungan uang yang berkelebihan ataupun kekuasaan merupakan perbuatan yang sering dianggap melanggar kode etik profesi;
b. Pelanggaran terhadap perbuatan pelayanan jasa profesi yang kurang mencerminkan kualitas keahlian yang sulit atau kurang dapat dipertanggung-jawabkan menurut standar maupun kriteria profesional.

ETIKA PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI
Dampak pemanfaatan teknologi informasi yang kurang tepat sebagai berikut (I Made Wiryana):
? Rasa takut;
? Keterasingan;
? Golongan miskin informasi dan minoritas;
? Pentingnya individu;
? Tingkat kompleksitas serta kecepatan yang sudah tidak dapat ditangani;
? Makin rentannya organisasi;
? Dilanggarnya privasi;
? Pengangguran dan pemindahan kerja;
? Kurangnya tanggung jawab profesi;
? Kaburnya citra manusia.

Beberapa langkah untuk menghadapi dampak pemanfaatan TI (I Made Wiryana):
a. Desain yang berpusat pada manusia;
b. Dukungan organisasi;
c. Perencanaan pekerjaan;
d. Pendidikan;
e. Umpan balik dan imbalan;
f. Meningkatkan kesadaran publik;
g. Perangkat hukum;
h. Riset yang maju.

Etika Penggunaan TI
Etika secara umum didefinisikan sebagai suatu kepercayaan atau pemikiran yang mengisi suatu individu, yang keberadaannya bisa dipertanggungjawabkan terhadap masyarakat atas prilaku yang diperbuat.
Biasanya pengertian etika akan berkaitan dengan masalah moral. Moral adalah tradisi kepercayaan mengenai prilaku benar dan salah yang diakui oleh manusia secara universal. Perbedaannya bahwa etika akan menjadi berbeda dari masyarakat satu dengan masyarakat yang lain.

Dua aktivitas utama Etika Komputer
(James H. Moore)
1. waspada,
2. sadar.

Tiga alasan utama minat masyarakat yang tinggi pada etika komputer
1. kelenturan logika (logical malleability), kemampuan memrograman komputer untuk melakukan apa pun yang kita inginkan.
2. faktor transformasi (transformation factors),
Contoh fasilitas e-mail yang bisa sampai tujuan dan dapat dibuka atau dibaca dimanapun kita berada,
3. faktor tak kasat mata (invisibility factors).

Semua operasi internal komputer tersembunyi dari penglihatan, yang membuka peluang pada nilai-nilai pemrograman yang tidak terlihat, perhitungan yang rumit terlihat dan penyalahgunaan yang tidak tampak

Hak Sosial dan Komputer
(Deborah Johnson)
1. Hak atas akses komputer, yaitu setiap orang berhak untuk mengoperasikan komputer dengan tidak harus memilikinya. Sebagai contoh belajar tentang komputer dengan memanfaatkan software yang ada;
2. Hak atas keahlian komputer, pada awal komputer dibuat, terdapat kekawatiran yang luas terhadap masyarakat akan terjadinya pengangguran karena beberapa peran digantikan oleh komputer. Tetapi pada kenyataannya dengan keahlian di bidang komputer dapat membuka peluang pekerjaan yang lebih banyak;
3. Hak atas spesialis komputer, pemakai komputer tidak semua menguasai akan ilmu yang terdapat pada komputer yang begitu banyak dan luas. Untuk bidang tertentu diperlukan spesialis bidang komputer, seperti kita membutuhkan dokter atau pengacara;
4. Hak atas pengambilan keputusan komputer, meskipun masyarakat tidak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan mengenai bagaimana komputer diterapkan, namun masyarakat memiliki hak tersebut.

Hak atas Informasi
(Richard O. Masson)
1. Hak atas privasi, sebuah informasi yang sifatnya pribadi baik secara individu maupu dalam suatu organisasi mendapatkan perlindungan atas hukum tentang kerahasiannya;
2. Hak atas Akurasi. Komputer dipercaya dapat mencapai tingkat akurasi yang tidak bisa dicapai oleh sistem nonkomputer, potensi ini selalu ada meskipun tidak selalu tercapai;
3. Hak atas kepemilikan. Ini berhubungan dengan hak milik intelektual, umumnya dalam bentuk program-program komputer yang dengan mudahnya dilakukan penggandaan atau disalin secara ilegal. Ini bisa dituntut di pengadilan;
4. Hak atas akses. Informasi memiliki nilai, dimana setiap kali kita akan mengaksesnya harus melakukan account atau izin pada pihak yang memiliki informasi tersebut. Sebagai contoh kita dapat membaca data-data penelitian atau buku-buku online di Internet yang harus bayar untuk dapat mengaksesnya.

Kontrak Sosial Jasa Informasi
? Komputer tidak akan digunakan dengan sengaja untuk menggangu privasi orang;
? Setiap ukuran akan dibuat untuk memastikan akurasi pemroses data;
? Hak milik intelektual akan dilindungi.

Perilaku-perilaku profesional SIM:
? Memanfaatkan kesempatan untuk berperilaku tidak etis;
? Etika yang membuahkan hasil;
? Perusahaan dan manajer memiliki tanggung jawab sosial;
? Manajer mendukung keyakinan etika mereka dengan tindakan.

Sepuluh langkah dalam mengelompokkan perilaku dan menekankan standar etika berupa:
Formulasikan suatu kode perilaku;
? Tetapkan aturan prosedur yang berkaitan dengan masalah-masalah seperti penggunaan jasa komputer untuk pribadi dan hak milik atas program dan data komputer;
? Jelaskan sanksi yang akan diambil terhadap pelanggar, seperti tenguran, penghentian, dan tuntutan;
? Kenali perilaku etis;
? Fokuskan perhatian pada etika secara terprogram seperti pelatihan dan bacaan yang disyaratkan;
? Promosikan undang-undang kejahatan komputer pada karyawan. Simpan suatu catatan formal yang menetapkan pertanggungjawaban tiap spesialis informasi untuk semua tindakan, dan kurangi godaan untuk melanggar dengan program-program seperti audit etika.
? Mendorong penggunaan program rehabilitasi yang memperlakukan pelanggar etika dengan cara yang sama seperti perusahaan mempedulikan pemulihan bagi alkoholik atau penyalahgunaan obat bius;
? Dorong partisipasi dalam perkumpulan profesional;
? Berikan contoh.

KOMPETENSI PEKERJAAN DI BIDANG TI
Kategori lowongan pekerjaan yang ditawarkan di lingkungan Penyedia Jasa Internet (PJI) atau Internet Service Provider (ISP):
1. Web Developer / Programmer;
2. Web Designer;
3. Database Administrator;
4. System Administrator;
5. Network Administrator;
6. Help Desk, dan
7. Technical Support.

Kompetensi dasar standar (standard core competency) yang harus dimiliki oleh ke semua kategori lapangan pekerjaan yaitu:
1. Kemampuan mengoperasikan perangkat keras, dan
2. Mengakses Internet.

1. Web Developer / Programmer
Kompetensi yang harus dimiliki :
1. Membuat halaman web dengan multimedia, dan
2. CGI programming.
2. Web Designer

2. Web Designer;
Kompetensi yang harus dimiliki:
1. Kemampuan menangkap digital image,
2. Membuat halaman web dengan multimedia.
3. Database Administrator

3. Database Administrator;
Kompetensi yang harus dimiliki:
• Monitor dan administer sebuah database

4. Help Desk
Kompetensi yang harus dimiliki:
• Penggunaan perangkat lunak Internet berbasis Windows seperti Internet Explorer, telnet, ftp, IRC.

5. System Administrator
Kompetensi yang harus dimiliki:
• Menghubungkan perangkat keras;
• Melakukan instalasi Microsoft Windows;
• Melakukan instalasi Linux;
• Pasang dan konfigurasi mail server, ftp server, web server, dan
• Memahami Routing
6. Network Administrator
Kompetensi yang harus dimiliki:
• Menghubungkan perangkat keras;
• Administer dan melakukan konfigurasi sistem operasi yang mendukung network;
• Administer perangkat network;
• Memahami Routing;
• Mencari sumber kesalahan di jaringan dan memperbaikinya;
• Mengelola network security;
• Monitor dan administer network security.

7. Technical Support
Kompetensi yang harus dimiliki:
• Menghubungkan perangkat keras;
• Melakukan instalasi Microsoft Windows;
• Melakukan instalasi Linux;
• Mencari sumber kesalahan di jaringan dan memperbaikinya;
• Penggunaan perangkat lunak Internet berbasis Windows seperti Internet Explorer, telnet, ftp, IRC;
• Pasang dan konfigurasi mail server, ftp server, web server.

Sabtu, 22 Mei 2010

proposal

BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar belakang masalah
Untuk memulai suatu usaha sebuah perusahaan harus memiliki modal atau dana, dengan sendirinya semakin berkembangnya suatu perusahaan, maka semakin besar pula modal atau dana yang dibutuhkan oleh suatu perusahaan.
Dana merupakan sumber daya yang sangat penting bagi setiap perusahaan dan sumber dana yang dimiliki oleh perusahaan go-public salah satunya dapat diperoleh dari penjualan saham yang dimiliki perusahaan tersebut. Menjual saham atau bagian kepemilikan perusahaan ke public akan memberikan banyak manfaat, selain dana yang relatif murah, cara ini tidak membebani perusahaan dengan kewajiban periodik membayar bunga dan disamping itu perusahaan tidak perlu menyediakan agunan seperti bila perusahaan meminjam dari lembaga keuangan.
Pasar modal merupakan salah satu indikator kemajuan perekonomian suatu Negara dan keberadaan pasar modal dapat menunjang perkembangan ekonomi Negara yang bersangkutan. Dengan adanya pasar modal dapat merangsang akan semakin banyak perusahaan yang go-public. Dari sisi peningkatan kualitas perusahaan publik yang beroperasi harus bersifat terbuka, yang berarti dari segi manajemen perusahaan dituntut untuk pengelolaan secara profesional karena adanya sorotan dan pandangan dari masyarakat luas.
Bursa efek Indonesia (BEI) merupakan salah satu alternative perolehan dana yang makin lama makin banyak dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia. Disamping dana yang dapat di peroleh dari pihak perbankan, perusahaan dapat memperoleh dana dari bursa efek Indonesia (BEI) dengan cara menerbitkan dan menjual saham kepada investor, dengan penjualan saham tersebut pihak perusahaan harus memberikan laba atau keuntungan berupa dividen kepada para pemegang saham.
Investor saham dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu ; kelompok pertama yang disebut juga dengan “buy and hold” dan kelompok yang kedua “buy and sell”. Kelompok “buy and hold” adalah investor yang membeli saham untuk disimpan atau dimiliki dalam jangka waktu yang panjang dan pendapatan yang diharapkan oleh para investor kelompok pertama adalah dividen, baik dividen saham maupun dividen tunai (kas). Dengan demikian informasi mengenai dividen sangat dibutuhkan oleh kelompok ini karena menyangkut pendapatan yang diharapkan. Sedangkan investor yang dikategorikan sebagai kelompok “buy and sell” adalah investor yang membeli saham tetapi tidak untuk memiliki dalam jangka panjang melainkan untuk dijual kembali, dan pendapatan atau keuntungan yang diharapkan oleh kelompok ini adalah berupa capital gain yaitu selisih antara harga beli dengan harga jual saham tersebut.
Bagi pemegang saham, pemberian dividen oleh perusahaan merupakan hal yang sangat penting dalam pertumbuhan perusahaan karena dividen merupakan salah satu motivator untuk menanamkan dana di pasar modal dan juga dapat mengevaluasi kinerja perusahaan dengan menilai besarnya dividen yang dibagikan. Pemegang saham ingin mengetahui berapa laba bersih yang diperoleh perusahaan karena mereka telah menginvestasikan dana untuk perusahan tersebut, dan berapa dividen yang akan dibagikan kepada mereka. Di lain pihak pemberian dividen dimaksudkan oleh perusahaan untuk menujukkan suatu bukti kepada para pemegang saham, bahwa pihak manajemen atau perusahaan bersungguh-sungguh berusaha untuk mensejahterakan pemegang saham, di samping untuk memperlihatkan kinerja perusahaan.
Seperti yang telah diuraikan diatas pada dasarnya ada dua keuntungan yang diperoleh investor dengan membeli saham yaitu dividen dan capital gain. Dividen dibagikan setelah mendapat persetujuan dari para pemegang saham melalui rapat umum pemegang saham (RUPS). Dividen yang lazim dibagikan perusahaan terdiri atas dividen saham dan dividen tunai, dividen saham adalah dividen yang berupa penambahan atas saham yang diberikan oleh emiten atas saham yang telah dimiliki oleh investor tersebut, sedangkan dividen tunai (kas) adalah dividen yang berupa uang tunai yang diberikan oleh emiten.
Keputusan untuk memberikan dividen kepada pemegang saham melibatkan dua pihak yang saling berbeda kepentingan yaitu perusahaan dan pemegang saham. Perusahaan ingin agar laba yang dibagikan sebagai dividen dalam jumlah yang kecil sehingga sebagian besar laba dapat ditahan dalam perusahaan, agar dana yang tersedia untuk investasi menjadi lebih besar. Namun di pihak lain pemegang saham ingin sebaliknya yaitu memperoleh dividen yang besar.
Dalam melakukan investasi di pasar modal investor atau pemegang saham mengharapkan dividen yang diberikan perusahaan dapat tumbuh seiring dengan pertumbuhan perusahaan. Untuk itu para investor membutuhkan indikator-indikator yang dapat dipakai untuk menjelaskan faktor-faktor apa yang mempengaruhi dividen.
Ada banyak pertimbangan yang harus dilakukan perusahaan sebelum memutuskan pemberian dividen kepada pemegang saham. Pertimbangan itu adalah tersedianya kas, posisi likuiditas, kesempatan dan tujuan perusahaan dihubungkan dengan pertumbuhan modal dan ekspansi, serta kebijakan perusahaan mengenai pembiayaan eksternal atau kemampuan perusahaan untuk mendapatkan dana dari pihak luar (Hendriksen dan breda 2000) .
Kas yang tersedia dari hasil operasi perusahaan merupakan kas yang dapat digunakan kembali untuk kegiatan investasi, membayar utang dan atau membayar dividen, dll. Pertumbuhan modal perusahaan ditentukan oleh laba bersih yang diperoleh perusahaan dikurangi dengan dividen yang dibagikan kepada pemegang saham.
Laba bersih (net income) sering dinyatakan sebagai suatu indikasi kemampuan perusahaan membayar dividen, hal itu benar apabila manajemen mendasarkan pemberian dividen secara ketat atas porsi atau bagian tertentu dari laba bersih secara tetap. Salah satu kelemahan terbesar dari laba bersih sebagai prediktor dividen di masa yang akan datang adalah sulitnya melakukan penandingan (matching) yang tepat antara beban (expenses) dengan pendapatan (revenue) akibat sifat prosedur alokasi yang arbitrer atau acak sehingga laba bersih yang dihasilkan menjadi bias.
Alternative lain yang dapat digunakan sebagai predictor dividen adalah dengan menggunakan arus kas (cash flow). Penggunaan arus kas dapat menghindari alokasi sehingga diharapkan prediksi atas dividen dapat dilakukan dengan lebih baik. Penggunaan arus kas historis juga memiliki kelemahan sebagai prediktor dividen dimasa yang akan datang, kerena banyak arus kas termasuk dividen yang saling tergantung antara satu dengan yang lainnya, misalkan kas yang tersedia atau penerimaan kas yang diharapkan dapat digunakan untuk pengeluaran modal, atau membayar hutang atau membayar dividen.
Menentukan jumlah yang tepat untuk pendistribusian dividen adalah hal yang sulit dalam pengambilan keputusan manajemen. Perusahaan–perusahaan yang membayar dividen cenderung menolak untuk mengurangi jumlah dividen karena hal ini dapat menggundang reaksi negativ dari pasar sekuritas, konsekuensinya perusahaan yang membayar dalam bentuk dividen kas akan berupaya untuk terus dapat melakukannya.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka penulis merasa perlu dan ingin mengangkat permasalahan tersebut sebagai penulisan ilmiah dengan judul “Pengaruh Laba Bersih dan Arus Kas dari aktivitas operasi terhadap Kebijakan Dividen Tunai pada PT. MUSTIKA RATU,Tbk“.

1.2. Perumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas maka perumusan masalah pokok penelitian antara lain :
1. Apakah terdapat pengaruh antara laba bersih terhadap kebijakan dividen tunai pada PT. Mustika Ratu,Tbk ?
2. Apakah terdapat pengaruh antara arus kas dari aktivitas operasi terhadap kebijakan dividen tunai pada PT. Mustika Ratu,Tbk ?
3. Apakah terdapat pengaruh antara laba bersih dan arus kas dari aktivitas operasi secara bersama-sama terhadap kebijakan dividen tunai pada PT. Mustika Ratu,Tbk ?
4. Manakah yang lebih berpengaruh antara laba bersih dan arus kas dari aktivitas operasi terhadap kebijakan dividen tunai pada PT, Mustika Ratu,Tbk ?

1.3. Batasan masalah
Penelitian ini di batasi pada upaya mengungkapkan informasi mengenai pengaruh laba bersih dan arus kas dari aktivitas operasi terhadap dividen tunai PT. Mustika Ratu,Tbk dari tahun 2006 sampai dengan 2009.

1.4. Tujuan penelitian
Tujuan penelitian yang ingin dicapai oleh penulis dalam melaksanakan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengaruh laba bersih terhadap kebijakan dividen tunai pada PT. Mustika Ratu,Tbk
2. Untuk mengetahui pengaruh arus kas dari aktivitas operasi terhadap kebijakan dividen tunai pada PT. Mustika Ratu,Tbk.
3. Untuk mengetahui pengaruh laba bersih dan arus kas dari operasi secara bersama-sama terhadap kebijakan dividen tunai pada PT.Mustika Ratu,Tbk
4. Untuk mengetahui mana yang lebih berpengaruh antara laba bersih dan arus kas dari aktivitas operasi terhadap kebijakan dividen tunai pada PT. Mustika Ratu,Tbk





1.5. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaatkan bagi berbagai pihak dalam hal :
1. Manfaat Akademis
Dalam penelitian ini dapat dilihat pengaruh laba bersih dan arus kas dari aktivitas operasi terhadap kebijkan dividen tunai, dimana laba bersih merupakan indikator bagi pemegang saham untuk mendapatkan dividen dari perusahaan, selain itu laba bersih sering dinyatakan sebagai indikasi kemampuan perusahaan membayar dividen.
2. Manfaat Praktis
Untuk memahami keadaan dan perkembangan perusahaan baik yang telah dicapai di waktu lalu maupun yang sedang berjalan sehingga akan terlihat kelemahan dan kemajuan perusahaan, dan disamping itu dapat dijadikan sebagai bahan acuan perusahaan untuk mengambil kebijakan dalam pembagian dividen dimasa mendatang. Perusahaan juga dapat menilai hal-hal apa saja yang lebih berpengaruh terhadap pembagian dividen yang dilakukan perusahaan yang menjual saham tersebut kepada para investor.

1.6. Metode Penelitian
1.6.1. Objek Penelitian
PT.Mustika Ratu Tbk, yang sudah Go Public di BEI yang beralamat:
Jl. Jendral Sudirman kav 52-53
Jakarta 12190 Indonesia
Telp : (021) 515-0515 / Fax : (021) 515-0330



1.6.2 Data / Variabel
Data atau variabel yang di gunakan dalam penelitian ini adalah data laporan keuangan publikasi PT.Mustika Ratu,tbk periode tahun 2006,2007,2008,dan 2009.

1.6.3 Metode Pengumpulan Data / Variabel
Data yang diperoleh penulis berupa data sekunder. Untuk melaporkan data tersebut penulis melakukan kunjungan ke website dengan alamat http://www.idx.co.id

1.6.4. Hipotesis
Berdasarkan tinjauan teori dan kerangka pemikiran diatas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
H1 : Terdapat pengaruh antara laba bersih terhadap kebijakan dividen tunai
H2 : Terdapat pengaruh antara arus kas dari aktivitas operasi terhadap kebijakan dividen tunai
H3 : Terdapat pengaruh antara laba bersih dan arus kas dari aktivitas operasi terhadap kebijakan dividen tunai
H4 : Arus kas lebih berpengaruh terhadap kebijakan dividen tunai dari pada laba bersih

1.6.5. Alat Analisis Yang Di Gunakan
Penulis menggunakan data berupa kuantitatif (berupa angka), dengan alat analisis sebagai berikut :
Model analisis ini merupakan analisis yang bersifat kuantitatif, yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana besarnya pengaruh antara variabel bebas dengan variabel terikat. Analisis regresi linier berganda adalah hubungan secara linier antara dua atau lebih variabel independent (X) dengan variabel dependen (Y). Analisis ini digunakan untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independent dengan variabel dependen apakah masing-masing variabel berhubungan positif atau negative, dan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai variabel independent mengalami kenaikan atau penurunan. Data yang digunakan biasanya berskala interval atau rasio. Dimana pengujian yang dilakukan sama dengan pengujian pada regresi sederhana.
Adapun rumus regresi berganda yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
Y = a+b1X1+b2X2
Keterangan :
Y = kebijakan Dividen tunai
X1 = Laba bersih
X2 = Arus kas operasi
b1,2 = Koefisien variabel independent
a = Konstanta
Dalam penelitian ini penulis menganalisis data yang ada dengan menggunakan program SPSS versi 17.00 sehingga dapat diketahui hasilnya secara langsung.














BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Kerangka Teori

2.1.1. Laba Bersih
1 . Pengertian Laba Bersih
Pengertian laba bersih secara konsep menurut Soemarso (2005 : 129) : “laba adalah selisih lebih pendapatan atas beban sehubungan dengan kegiatan usaha “.
Menurut Belkaoui (2000 : 109) definisi laba menurut konsep akuntansi adalah sebagai berikut :“laba menurut konsep akuntansi adalah selisih antara pendapatan (revenue) yang direalisir dari pendapatan“
Lebih luas lagi Stice, Stice dan Skousen (2004 : 226) mengemukakan bahwa : “laba adalah jumlah yang dapat diberikan kepada investor (sebagai hasil investasi ) dan kondisi perusahaan di akhir periode masih sama baiknya atau kayanya (well off) dengan di awal periode“.
Laba bersih disajikan dalam laporan laba rugi dengan membandingkan pendapatan dan biaya. Menurut Soemarso (2002 : 227) “Angka terakhir dalam laporan laba rugi adalah laba bersih . Jumlah ini merupakan kenaikan bersih terhadap modal. Sebaliknya, apabila perusahaan menderita rugi , angka terakhir dalam laporan laba rugi adalah rugi bersih.
Berkaitan dengan penyajian laporan laba rugi, ikatan akuntan Indonesia (IAI) menjelaskan bahwa : “Laporan laba rugi merupakan laporan utama untuk melaporkan kinerja suatu perusahaan selama periode tertentu. Informasi tentang kinerja suatu perusahaan, terutama tentang profitabilitas, dibutuhkan untuk mengambil keputusan tentang sumber ekonomi yang akan dikelola oleh suatu perusahaan di masa yang akan datang“
Laba bersih merupakan arus sisa dari laba yang menjadi milik para pemegang saham. Atas nama pemegang saham, dewan direksi memutuskan besarnya bagian dari laba bersih yang dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen dan beberapa bagian yang harus diinvestasikan kembali ke perusahaan.

2. Konsep Laba
1) Konsep Laba Pada Tingkat Sematik
Konsep ini ditelaah melalui hubungannya dengan realita ekonomi. Konsep ini terdiri dari dua konsep ekonomi yaitu konsep perubahan kesejahteraan dan maksimalisasi laba.
a. Konsep perubahan kesejahteraan (pemeliharaan modal)
Pada konsep ini laba di definisikan sebagai jumlah yang dapat diberikan perusahaan kepada pemegang saham, sehingga tingkat kesejahteraan mereka pada akhir periode minimal sama dengan awal periode.
b. Konsep memaksimalkan laba
Pada konsep ukuran paling umum untuk pencapaian laba maksimal adalah tingkat efisiensi manajemen dalam mengelola perusahaan.
2) Konsep Laba Pada Tingkat Sintaksis
Pada tingkat ini laba dihubungkan dengan konversi (kebiasaan) dan aturan logis serta konsistensi dengan berdasar pada premis dan aturan yang berkembang dari praktek akuntansi yang ada. Terdapat dua pendekatan pengukuran laba yaitu:
a) Pendekatan transaksi
Pendekatan transaksi merupakan pendekatan konvesional yang banyak digunakan para akuntan. Pada prinsipnya pendekatan ini mencatat perubahan nilai aktiva dan kewajibannya yang diakibatkan dari suatu transaksi baik transaksi eksternal maupun transaksi internal. Prosedur yang lazim dari pendekatan transaksi ini adalah mencatat pendapatan dan biaya pada saat terjadinya berdasarkan transaksi eksternal.
Pendekatan transaksi menurut Ghozali dan Chariri (2007:351) memiliki beberapa kebaikan yang dapat disimpulkan sebagai berikut:
1) Komponen laba dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara. Misalnya : atas dasar produk atau konsumen.
2) Laba operasi dapat dipisahkan dari laba non operasi.
3) Dapat dijadikan dasar dalam penentuan tipe dan kuantitas aktiva dan hutang yang ada pada akhir periode.
4) Efisiensi usaha memerlukan pencatatan transaksi eksternal untuk berbagai tujuan.
5) Berbagai laporan keuangan dapat dibuat dan dikaitkan antara laporan yang satu dengan yang lainnya.
b) Pendekatan kegiatan
Laba dianggap timbul bila kegiatan tertentu telah dilaksananakan. Jadi laba bias timbul pada tahap perencanaan, pembelian, produksi, penjualan, dan pengumpulan kas. Pendekatan kegiatan lebih menitikberatkan pada penjelasan suatu kejadian atau aktivitas perusahaan dari pada pelaporan suatu transaksi dan tidak dibatasi pada kegiatan dengan pihak luar.
Kebaikan dari pendekatan kegiatan ini menurut Ghozali dan Chariri (2007:352) sebagai berikut:
a) Laba yang berasal dari produksi dan penjualan barang memerlukan jenis evaluasi dan prediksi yang berbeda dibandingkan laba yang berasal dari pembelian dan penjualan surat berharga yang ditujukan pada usaha memperoleh capital gain.
b) Efisiensi manajemen dapa diukur dengan lebih baik bila laba diklasifikasikan menurut jenis kegiatan yang menjadi tangung jawab manajemen.
c) Memungkinkan prediksi yang lebih baik karena adanya perbedaan pola perilaku dari jenis kegiatan yang berbeda.
3) Konsep Laba Pada Tingkat Perilaku.
Pada tingkat prilaku atau pragmatis konsep laba dikaitkan perilaku pengguna laporan keuangan terhadap informasi yang tersirat dari laba perusahaan. Beberapa reaksi para pemakai dapat ditunjukkan dengan proses pengambilan keputusan dari investor dan kreditor, reaksi harga surat berharga terhadap pelaporan laba atau reaksi umpan balik dari manajemen dan akuntan terhadap laba yang dilaporkan. Berdasarkan uraian diatas, konsep laba pada tingkat perilaku paling harus dapat memberikan implikasi laba sebagai alat peramalan, laba sebagai beban pengambilan keputusan manajemen.
2.1.2. Arus Kas
1. Pengertian Laporan Arus Kas
Laporan arus kas adalah salah satu laporan keuangan yang dibutuhkan dalam semua laporan tahunan perusahaan publik. Laporan arus kas menunjukkan tentang informasi mengenai kemampuan perusahaan untuk menghasilkan kas dari kegiatan operasional, menjaga dan mengembangkan kapasitas operasional, memenuhi kewajiban keuangan dan membayar dividen
Pengertian laporan arus kas menurut Ikatan Akuntan Indonesia dalam PSAK No.2 (2007 : 2.1) adalah sebagai berikut : “Informasi tentang arus kas suatu perusahaan yang berguna bagi para pemakai laporan keuangan sebagai dasar untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas dan menilai kebutuhan perusahaan untuk menggunakan arus kas tersebut “.
Sedangkan pengertian laporan arus kas menurut Stice , Stice dan Skousen (2004 : 319) adalah : “Laporan arus kas (statement of cash flow) menjelaskan perubahan pada kas atau setara kas (cash equivalent) dalam periode tertentu“.
Jadi dalam menyajikan laporan arus kas harus dilaporkan arus kas selama periode tertentu. Dalam mengklasifikasikan menurut aktivitas operasi , aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan pemakai laporan dapat mengetahui dan menilai dari mana kas dan setara kas perusahaan selama ini.
2. Konsep Penyusunan laporan arus kas
1) Laporan keuangan yang mendukung laporan arus kas
Laporan arus kas merupakan salah satu bagian dari laporan keuangan yang harus dibuat perusahaan. Laporan ini merupakan revisi dari mana uang kas diperoleh perusahaan dan bagaimana mereka membelanjakannya.
Menurut Kieso dan Weygandt (2002 : 376) informasi untuk menyiapkan laporan ini biasanya berasal dari tiga sumber, yang dapat disimpulkan sebagai berikut :
a) Neraca komparatif, menyajikan jumlah perubahan aktiva, kewajiban dan ekuitas dari awal hingga akhir periode.
b) Laporan laba rugi periode berjalan, berisi data yang membantu pembaca menentukan jumlah kas yang diterima dan atau digunakan oleh operasi selama periode berjalan.
c) Data transaksi tertentu, dari buku besar umum memberikan informasi tambahan terinci yang dibutuhkan untuk menentukan bagaimana kas diterima dan digunakan selam periode berjalan.
2) Penentuan arus kas dari aktivitas operasi
Salah satu informasi paling penting yang dilaporkan pada arus kas yang disediakan (atau digunakan) oleh aktivitas-aktivitas operasi pengaruh kas dari transaksi yang dilibatkan dalam penentuan laba bersih, seperti penerimaan kas dari penjualan barang dan jasa, serta pembayaran kas kepada pemasok dan karyawan untuk memperoleh persediaan serta membayar beban.
Menurut standar akuntansi keuangan No.2 (2007), perusahaan harus melaporkan arus kas operasi dengan salah satu metode berikut :
a) Metode Langsung
Yaitu dengan mengungkapkan kelompok utama dari penerimaan dan pengeluaran kas bruto. Perusahaan dianjurkan untuk menggunakan metode langsung karena dengan metode-metode ini dapat menghasilkan instrument yang berguna dalam estimasi arus kas masa depan yang tidak dapat dihasilkan dengan metode tidak langsung.
b) Metode Tidak Langsung
Yaitu dengan menyesuaikan laba atau rugi bersih dengan cara mengoreksi pengaruh dari transaksi bukan kas, penangguhan atau akrual dari penerimaan atau pengeluaran untuk operasi masa lalu atau masa depan, unsur penghasilan atau beban yang berhubungan dengan akuntansi investasi dan pembiayaan.
Arus kas bersih dari aktivitas operasi ditentukan dengan menyesuaikan laba atau rugi bersih dari pengaruh :
1) Perubahan persediaan dan piutang usaha serta utang usaha selama periode berjalan.
2) Pos bukan kas seperti penyusutan, penyisihan, pajak ditangguhkan, keuntungan dan kerugian valuta asing yang belum direalisasi, laba perusahaan asosiasi yang belum dibagikan, serta hak minoritas dalam laba atau rugi konsolidasi.
3) Semua pos lain yang berkaitan dengan arus kas investasi dan pendanaan.

3) Penentuan arus kas dari aktivitas investasi
Tahap berikutnya dalam penyusunan laporan arus kas adalah menentukan arus kas dari aktivitas investasi. Kegiatan investasi umumnya melibatkan aktiva jangka panjang dan mencakup :
a) Pemberian serta penagihan pinjaman
b) Perolehan serta pelepasan investasi dan aktiva produktif jangka panjang
Arus masuk kas mencakup penjualan aktiva tetap, penjualan surat berhaga yang berupa investasi, penagihan pinjaman jangka panjang (tidak termasuk bunga jika ini merupakan investasi) dan penjualan aktiva lainnya yang digunakan dalan kegiatan produksi (tidak termasuk persediaan).
Arus keluar kas terutama digunakan untuk pembelian aktiva tetap, pembelian investasi jangka panjang, pemberian pinjaman pada pihak lain dan pembayaran untuk aktiva yang digunakan dalam kegiatan produktif.
4) Penentuan arus kas dari aktivitas pembiayaan
Kegiatan pembiayaan melibatkan pos-pos kewajiban dan ekuitas pemegang saham serta mencakup :
a) Perolehan kas dari kreditor dan pembayaran kembali pinjaman.
b) Perolehan modal dari pemilik dan pemberian tingkat pengembalian atas pengembalian dari investasinya.
Arus masuk kas mencakup pengeluaran saham, pengeluaran wesel, penjualan obligasi, pengeluaran hipotik dan lain-lain. Arus kas keluar terutama digunakan untuk pembayaran dividen d an pembagian lainnya yang diberikan kapasa pemilik, pembelian saham pemilik kembali (treasury stock), pembayaran hutang pokok dana yang dipinjam (tidak termasuk bunga karena dianggap sebagai kegiatan operasi).


2.1.3. Kebijakan Dividen
2.1.3.1. Teori Kebijakan Deviden
Beberapa teori yang relevan dalam kebijakan deviden adalah smoothing theory, clientele effect theory, tax preference theory, dividend irrelevance theory, bird in the hand theory, residual theory of dividens, teori signal atau isi informasi dividen (information content of dividend).
a) Smoothing Theory
Teori ini dikembangkan oleh Lintner. Teori ini mengatakan bahwa jumlah dividen bergantung akan keuntungan perusahaan sekarang dan dividen tahun sebelumnya.
b) Clientele Effect Theory
Teori ini diungkapkan oleh Black and Scholes. Teori mengatakan bahwa kelompok (clientele) pemegang saham yang berbeda akan memiliki preferensi yang berbeda terhadap kebijaksanaan dividen perusahaan. Sebagai contoh, kelompok investor dengan tingkat pajak yang tinggi akan menghindari dividen, karena dividen mempunyai tingkat pajak yang lebih tinggi dibandingkan dengan capital gain. Menurut teori ini dividen tertentu akan menarik segmen tertentu kemudian tugas perusahaan (manajemen keuangan) adalah melayani segmen tersebut. Kebijakan dividen yang berubah-ubah akan mengacaukan efek klien tersebut, menyebabkan harga saham berubah.





c) Tax preference theory
Menurut teori ini, investor tidak terlalu menyukai dividen karena dividen tidaklah tax deductible. Teori ini merujuk kepada pengenaan pajak yang diberlakukan bagi setiap investor yang mendapat capital gain atau dividen. Pada umumnya besarnya pajak yang diberlakukan berbeda, dimana pajak untuk dividen lebih besar dibandingkan pajak untuk capital gain. Selain itu, pajak atas capital gain baru dapat dibayar jika capital gain telah direalisasi. Dengan demikian, apabila investor tidak segera merealisasikan capital gain-nya, berarti investor menunda pembayaran pajaknya. Sudah tentu present value (PV) pembayaran pajaknya akan turun. Dengan dua alasan ini (pajak lebih rendah serta dapat ditundakan) maka Litzenberger dan Ramaswarny (1979) menyatakan pandangan negatif dividen bagi value perusahaan.
d) Dividend Irrelevance Theory
Teori ini dikembangkan oleh Miller dan Modigliani dalam papernya Dividend Irrelevance Preposisition. Paper tersebut menjelaskan bahwa dalam dunia pajak, dan tidak diperhitungkannya biaya transaksi serta dalam kondisi pasar yang sempurna, maka kebijakan dividen tidak akan memberikan pengaruh apapun pada harga pasar saham tersebut. Menurut MM kebijakan dividen sebenarnya tidak relevan untuk dipersoalkan.
e) Bird in the Hand Theory
Teori ini mengatakan pembayaran dividen mengurangi ketidakpastian karena dividen diterima saat ini, sedangkan capital gain diterima di masa mendatang. Gordon mengemukakan bird in the hand theory yang mengatakan bahwa dengan mendapatkan dividen (a bird in the hand) adalah lebih baik daripada saldo laba (a bird in the bush) karena pada akhirnya saldo laba tersebut mungkin tidak akan pernah terwujud sebagai dividen di masa depan (it can fly away).
f) Residual Theory Of Dividens
Menurut teori dividen residual, dividen ditentukan dengan cara: a) mempertimbangkan kesempatan investasi perusahaan, b) mempertimbangkan target struktur modal perusahaan untuk menentukan besarnya modal sendiri yang dibutuhkan untuk investasi, c) memanfaatkan laba ditahan untuk memenuhi kebutuhan akan modal sendiri tersebut semaksimal mungkin dan, d) membayar dividen hanya jika ada sisa laba.
Kebijakan dividen residual dengan demikian membayarkan dividen hanya jika ada sisa kas setelah perusahaan mendanai semua usulan investasi yang mempunyai NPV (Net Present Value) positif.
g) Teori Signal atau Isi Informasi Dividen (Information Content Of Dividend)
Ada kecenderungan harga saham akan naik jika ada pengumuman kenaikan dividen, dan harga saham akan turun jika ada pengumuman penurunan dividen. Ada argumen lain yang lebih masuk akal. Dividen itu sendiri tidak menyebabkan kenaikan (penurunan) harga, tetapi prospek perusahaan, yang ditunjukkan oleh meningkatnya (menurunnya) dividen yang dibayarkan, yang menyebabkan perubahan saham. Teori tersebut kemudian dikenal sebagai teori signal atau isi informasi dividen. Menurut teori ini, dividen mempunyai kandungan informasi, yaitu prospek perusahaan di masa mendatang.


h) Agency Theory
Menurut teori ini konflik terjadi pihak-pihak yang berkaitan di perusahhan. Sebagai contoh, manajer disewa oleh pemegang saham untuk menjalankan perusahaan agar tujuan pemegang saham bisa tercapai., tetapi manajer bisa saja mempunyai agenda tersendiri yang tidak selalu konsisten dengn tujuan pemegang saham, misalnya perusahaan mempunyai kelebihan kas dengan NPV positif (free cash flow), yang didefenisikan sebagai kelebihan kas setelah semua investasi dengan NPV positif didanai). Kas tersebut akan lebih baik jika dibagikan ke pemegang saham, dan pemegang saham akan memanfaatkan kas tersebut dengan cara mererka tersendiiri.
Selain itu digunakan juga teori keuangan. Teori keuangan akan menjelaskan bagian yang akan dibagikan oleh perusahaan sebagai dividen bagi para pemegang saham.
i) Teori Keuangan
Menurut teori keuangan, dividen (atau investasi kembali) tidak sama dengan laba setelah pajak. Dalam teori keuangan, jumlah dana yang bisa dibagikan sebagai dividen bisa dinyatakan sebagai berikut:
D = E + Penyusutan – Investasi pada A.T – Penambahan M.K




Keterangan:
D = Dividen,
E = Earning After Tax (Laba Setelah Pajak),
A.T = Aktiva Tetap,
M.K = Modal kerja.
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa dana yang bisa dibagikan sebagai dividen merupakan kelebihan dana yang diperoleh dari operasi perusahaan (yaitu E + penyusutan) diatas keperluan investasi untuk menghasilkan laba dimasa yang akan datang (yaitu investasi aktiva tetap dan modal kerja). Hanya saja, untuk menyederhanakan analisis sering diasumsikan bahwa investasi pada aktiva tetap akan diambilkan dari dana penyusutan, dan modal kerja dianggap tidak berubah (sehingga tidak perlu menambah modal kerja). Apabila asumsi ini dipergunakan, maka bisa dimengerti kalau besarnya dividen ditentukan oleh laba setelah pajak (E) dan maksimal dividen yang bisa dibagikan adalah sama dengan E. Itulah mengapa EAT digunakan sebagai ukuran jumlah maksimal dana yang dibagikan sebagai dividen.
2.1.3.2. Faktor -faktor yang mempengaruhi kebijakan deviden
faktor yang mempengaruhi manajemen dalam menentukan kebijakan dividen , adalah :
a) Perjanjian Hutang pada umumnya perjanjian hutang antara paerusahan dengan kreditor membatasi pembayaran dividen. Misalnya, dividen hanya dapat diberikan jika kewajiban hutang telah dipenuhi perusahaan dan atau rasio – rasio keuangan menunjukkan bank dalam kondisi sehat.
b) Pembatasan dari Saham Preferen , tidak ada pembayaran dividen untuk saham biasa jika dividen saham preferan belum dibayar.
c) Tersedianya Kas, Dividen berupa uang tunai ( cash dividend ) hanya dapat dibayar jika tersedianya uang tuani yang cukup. Jika likuiditas baik, perusahaan dapat membayar dividen.
d) Pengendalian , Jika manajemen ingin mempertahankan kontrol terhadap perusahaan, ia cenderung untuk segan menjual saham baru sehingga lebih suka menahan laba guna memenuhi kebutuhan dana / baru. Akibatkanya dividen yang dibayar menjadi kecil. Faktor ini menjadi penting pada perusahaan yang relatif kecil.
e) Kebutuhan Dana untuk Investasi , Perusahaan yang berkembang selalu membutuhkan dana baru untuk diinvestasikan pada proyek – proyek yang menguntungkan. Sumber dana baru yang merupakan modal sendiri ( equity ) dapat berupa penjualan sham baru dan laba ditahan. Manajemen cenderung memanfaatkan laba ditahan karena penjualan saham baru menimbulkan biaya peluncuran saham ( flotation cost ) . Oleh karena itu semakin besar kebutuhan dana investasi, semakin kecil dividen payout ratio.
f) Fluktuasi Laba, Jika laba perusahaan dapat membagikan dividen yang relatif besar tanpa takut harus menurunkan dividen jika laba tiba – tiba merosot. Sebaliknya jika laba perusahaan berfluktuasi, dividen sebaiknya kecil agar kestabilannya terjaga. Selain itu, perusahaan dengan laba yang berfluktuasi sebaiknya tidak banyak menggunakan hutang guna mengurangi risiko kebangkrutan. Konsekuensinya laba ditahan menjadi besar dan dividen mengecil.




2.1.4. Metode Yang Dapat Untuk menghitung
Penulis melakukan penelitian mengenai pengaruh laba bersih dan arus kas dari aktivitas operasi terhadap deviden tunai. Penelitian yang dilakukan penulis merupakan penelitian arsip (archival research) yaitu penelitian terhadap fakta (dokumen) atau berupa arsip data. Dokumen atau arsip yang diteliti berdasarkan sumbernya dapat berasal dari data internal: yaitu dokumen, arsip, dan catatan orisinil yang diperoleh dari suatu organisasi atau berasal dari data eksternal, yaitu publikasi data yang diperoleh melalui orang lain. Proses pengumpulan data berupa dokumen atau arsip dapat dikerjakan sendiri oleh peneliti atau berupa publikasi data yang proses pengumpulannya dikerjakan oleh orang lain. Dan dalam hal ini peneliti memperoleh datanya dari data eksternal yaitu data yang dipublikasikan oleh Pusat Referensi Pasar Modal (PRPM).

2.1.4.1. Operasionalisasi variabel
Dalam penelitian ini terdapat tiga variabel, yaitu variabel independen (x) di antaranya laba bersih (x1) dan arus kas dari aktivitas operasi (x2) serta kebijakan deviden sebagai variabel dependen (y).

2.1.4.2. Populasi dan sampel penelitian
2.1.4.2.1. Populasi Penelitian
Dalam penelitian ini yang dijadikan populasi adalah perusahaan industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2006 sampai dengan tahun 2008 yang terdiri dari 40nperusahaan (emiten). Penelitian ini dilakukan di Pusat Referensi Pasar Modal (PRPM) Gedung Bursa Efek Indonesia menara 2 lantai 1, Jl. Jend. Sudirman Kav. 52 – 53, Jakarta 12190.
2.1.4.2.2. Sampel Penelitian
Teknik sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan judgement sampling atau purposive sampling. Dimana anggota sampel dipilih dengan menggunakan pertimbangan tertentu berdasarkan tujuan penelitian. Jumlah sampel yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah Perusahaan Mustika Ratu,Tbk dengan kriteria sebagai berikut:
a. Perusahaan Mustika Ratu,Tbk yang terdaftar di BEI pada periode 2006 sampai dengan tahun 2008
b. Telah menyampaikan laporan keuangan tahunan periode 2006 sampai dengan tahun 2008 yang telah diaudit
c. Data keuangan perusahaan lengkap dengan variabel yang diteliti, terdapat laba usaha, penjualan bersih, dan total aktiva
d. Laporan keuangan disajikan dalam mata uang Rupiah Indonesia.
Berdasarkan kriteria yang telah ditentukan maka dari data yang ada pada JSX statistics yang diperoleh dari Pusat Referensi Pasar Modal (PRPM) didapat 20 perusahaan industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI pada periode 2006 sampai dengan tahun 2009 yang digunakan sebagai sampel dalam penelitian.
2.1.4.2.3. Jenis,Sumber, dan Metode Pengumpulan Data
A. Jenis data
Data penelitian pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu data subyek, data fisik, dan data dokumenter. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis data dokumenter yaitu menggunakan laporan keuangan pada tahun 2006 sampai dengan tahun 2009 perusahaan Mustika Ratu,Tbk yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
B. Sumber data
Data yang digunakan dalam penelitian ini dapat digolongkan sebagai data eksternal. Data eksternal adalah data yang didapat dari luar lembaga atau organisasi yang bersangkutan.

C. Metode Pengumpulan Data
Adapun metode pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penyusunan skripsi ini adalah Penelitian Kepustakaan.
Penelitian kepustakaan dilakukan untuk memperoleh data yang bersifat teorritis dan dapat menunjang materi pembahasan penelitian. Cara mengumpulkan data ini bersumber dari kepustakaan yang berupa buku, skripsi, dan literature-literatur lainnya yang berhubungan dengan skripsi ini.
Penelitian kepustakaan dilakukan dengan cara penelitian langsung ke Pusat Referensi Pasar Modal (PRPM) di Bursa Efek Indonesia. Data yang diperoleh adalah data sekunder (data documenter) berupa laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan.


















BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Objek Penelitian
PT.Mustika Ratu Tbk, yang sudah Go Public di Bei yang beralamat:
Jl. Jendral sudirman kav 52-53
Jakarta 12190 Indonesia
Telp : (021) 515-0515 / Fax : (021) 515-0330

3.2. Data / Variabel Yang Digunakan
Data atau variabel yang di gunakan dalam penelitian ini adalah data laporan keuangan publikasi PT.Mustika Ratu,tbk periode tahun 2006,2007,2008,dan 2009.

3.3. Metode Pengumpulan Data
Data yang diperoleh penulis berupa data sekunder. Untuk melaporkan data tersebut penulis melakukan kunjungan ke website dengan alamat http://www.idx.co.id

3.4. Hipotesis
Berdasarkan tinjauan teori dan kerangka pemikiran diatas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
H1 : Terdapat pengaruh antara laba bersih terhadap kebijakan dividen tunai
H2 : Terdapat pengaruh antara arus kas dari aktivitas operasi terhadap kebijakan dividen tunai
H3 : Terdapat pengaruh antara laba bersih dan arus kas dari aktivitas operasi terhadap kebijakan dividen tunai
H4 : Arus kas lebih berpengaruh terhadap kebijakan dividen tunai dari pada laba bersih
3.5. Alat Analisis Yang Digunakan
Penulis menggunakan data berupa kuantitatif (berupa angka), dengan alat analisis sebagai berikut :
3.5.1. Uji Hipotesis
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain :
3.5.1.1. Uji Koefisien Korelasi
Menurut Indrianto dan Supomo (2002) : “penelitian korelasi (correlation research) merupakan tipe penelitian dengan karakteristik masalah berupa hubungan korelasi antara dua variabel atau lebih. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya korelasi antara variabel atau membuat prediksi berdasarkan korelasi antar variabel”.
Koefisien korelasi merupakan nilai yang digunakan untuk mengukuran kekuatan (keeratan) suatu hubungan antara variabel. Dalam penelitian ini digunakan korelasi pearson product moment dengan alas an sebagai berikut:
1. Korelasi pearson digunakan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara dua variabel dan bila ada apakah hubungannya positif atau negative.
2. Korelasi pearson digunakan karena penelitian menggunakan data berskala rasio.
Dasar pengambilan keputusan:
Jika signifikan < 0,05 maka Ha diterima (terdapat hubungan positif antara variabel independen dengan variabel dependen)
Jika signifikan > 0,05 maka Ha ditolak (tidak terdapat hubungan positif antara variabel independen dengan variabel dependen).
Namun dalam penelitian ini penulis menggunakan program SPSS versi 16.00 untuk menganalisis data yang ada.


3.5.1.2. Uji Regresi Linier Berganda
Model analisis ini merupakan analisis yang bersifat kuantitatif, yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana besarnya pengaruh antara variabel bebas dengan variabel terikat. Analisis regresi linier berganda adalah hubungan secara linier antara dua atau lebih variabel independent (X) dengan variabel dependen (Y). Analisis ini digunakan untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independent dengan variabel dependen apakah masing-masing variabel berhubungan positif atau negative, dan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai variabel independent mengalami kenaikan atau penurunan. Data yang digunakan biasanya berskala interval atau rasio. Dimana pengujian yang dilakukan sama dengan pengujian pada regresi sederhana.
Adapun rumus regresi berganda yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

Y = a+b1X1+b2X2

Keterangan :
Y = kebijakan Dividen tunai
X1 = Laba bersih
X2 = Arus kas operasi
b1,2 = Koefisien variabel independent
a = Konstanta
Dalam penelitian ini penulis menganalisis data yang ada dengan menggunakan program SPSS versi 16.00 sehingga dapat diketahui hasilnya secara langsung.
3.5.1.3. Uji t
Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel antara laba bersih dan arus kas operasi terhadap kebijakan dividen tunai.
Dengan pengambilan keputusan :
a) Signifikan < 0,05, maka Ha diterima
b) Signifikan > 0,05, maka Ha ditolak.

3.5.1.4. Uji F atau ANOVA
Pengujian dengan uji F digunakan untuk mengetahui apakah variabel independent (bebas) secara keseluruhan mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen (terikat). Dari hasil uji dapat diketahui apakah terdapat model penaksiran yang digunakan tepat atau tidak. Uji hipotesis serentak ini membandingkan apakah signifikan Fhitung lebih besar atau labih kecil dari 0,05.
Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
Ha : b1 ≠ b2 ≠0 = Berarti secara serentak ada pengaruh yang signifikan antara laba bersih dan arus kas dari aktivitas operasi terhadap pembagian dividen tunai.
3.5.1.5. Uji Koefisien Determinasi (R2)
Uji koefisien determinasi berganda bertujuan untuk mengukur seberapa besar variasi variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen. Kelemahan mendasar penggunaan koefisien determinasi adalah bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan ke dalam model. Banyak peneliti mengajurkan untuk menggunakan nilai adjusted R2 pada saat mengevaluasi mana model regresi terbaik karena nilai adjusred R2 dapat naik atau turun apabila suatu variabel independen ditambah kedalam model.
Rumus koefisien determinasi atau koefisien penentu (KP) dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
KP = (r)2 x 100%

3.5.1.6. Uji Koefisien Beta
Uji koefisien beta digunakan untuk menunjukkan variabel bebas manakah yang dominan mempengaruhi terhadap variabel dependennya. Keuntungan dengan mengunakan standardized beta adalah mampu mengeliminasi perbedaan unit ukuran pada variabel independent.
Uji ini digunakan untuk mengetahui hipotesis ke empat dalam penelitin ini. Hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan standardized beta adalah koefisien beta digunakan untuk melihat pentingnya masing-masing variabel independen secara relative dan tidak ada multikolinearitas antara variabel independent
















BAB IV
PEMBAHASAN

4.1. Data dan Profile Objek Penelitian

4.1.1 Profile Perusahaan
Pada tahun 1978 oleh Ny. Mooryanti Soedibjo dengan nama PT. Mustika Ratu yang sebelumnya selama lima tahun berbentuk industri rumah tangga yang bergerak dalam usaha pembuatan dan penjualan jamuserta kosmetik tradisional Indonesia yang berkedudukan di Jakarta, berdasarkan akta No. 35 tanggal 14 Maret 1987, dibuat dihadapan notaris Gustaaf Hoemala Soangkoepon Lomban Tobing, SH yang telah disahkan oleh menteri kehakiman Republik Indonesia berdasarkan SK No. Y.A.S/188/15 tanggal 22 Desember 1987, didaftarkan pada kantor pengandilan negeri Jakarta pada tanggal 8 Maret 1979 dengan No. 1015 dan diumumkan dalam berita Negara Republik Indonesia No.8 tanggal 25 Desember 1980.
Pada saat didirikan dengan akta No.35 tanggal 14 Maret 1978 Struktur permodalan PT. Mustika Ratu, Tbk dibentuk dengan modal dasar Rp 10.000.000 (sepuluh juta rupiah) terdiri dari 50 (lima puluh) saham prioritas dan 50 (lima puluh) saham biasa dengan nilai nominal Rp 100.000,00 (seratus ribu rupiah) pertiap saham.
PT. Mustika Ratu, Tbk berkedudukan di Jakarta dan menyewa ruangan untuk kantor pusat perseroan, sedangkan tanah dan bangunan untuk fasilitas produksi dan pergudangan terletak di Ciracas, Jakarta Timur. Untuk lahan perkebunan bahan baku berada di tapos.



4.1.2. Data Perusahaan.
Berikut ini adalah data yang di ambil dari tahun 2006 samapi 2009 :

Tabel 4.1


Tahun Laba bersih Arus Kas Operasi Dividen
Tahun 2006 9.096.227.057 2.333.316.549 1.096.225.057
Tahun 2007 11.130.009.991 16.550.490.271 1.369.600.000
Tahun 2008 22.290.067.707 30.430.824.332 2.225.600.000
Tahun 2009 13.019.435.169 2.349.519.183 5.572.560.000
4.2. Uji Hipotesis
4.2.1. Analisa Koefisien korelasi
Analisa korelasi digunakan untuk menghitung seberapa kuat hubungan antara laba bersih dan arus kas dari aktivitas operasi terhadap dividen tunai. Dimana dalam penelitian ini menggunakan korelasi Pearson (Product Moment).
Dasar pengambilan keputusan :
a. Jika signifikan < 0,05 maka Ha diterima (terdapat hubungan)
b. Jika signifikan > 0,05 maka Ha ditolak (tidak terdapat hubungan).
Interprestasi koefisien korelasi :
0.00 – 0.199 Hubungan sangat lemah
0.20 – 0.399 Hubungan sangat rendah
0.40 – 0.599 Hubungan sedang
0.60 – 0.799 Hubungan kuat
0.80 – 1.000 Hubungan sangat kuat
Berdasarkan dta pada tabel 4.1, maka hasil analisis dapat dilihat pada tabel 4.2 sebagai berikut :
Tabel 4.2
Hasil Uji Korelasi

Correlations
LABA_BERSIH ARUS_KAS_OPERASI DEVIDEN
LABA_BERSIH Pearson Correlation 1 .837 .865
Sig. (1-tailed) .000 .000
N 4 4 4
ARUS_KAS_OPERASI Pearson Correlation .837 1 .850
Sig. (1-tailed) .000 .000
N 4 4 4
DEVIDEN Pearson Correlation .865 .850 1
Sig. (1-tailed) .000 .000
N 4 4 4


Berdasarkan pengujian diatas, diketahui korelasi pearson antara laba bersih terhadap dividen tunai sebesar 0,865 dengan tingkat signifikansi 0,000 < 0,05 maka Ha ditolak yang berarti artinya laba bersih mempunyai hubungan positif dan sangat kuat terhadap dividen tunai. Korelasi pearson antara arus kas operasi terhadap dividen tunai sebesar 0,850 dengan tingkat signifikansi 0,000 < 0,05 maka Ho ditolak artinya arus kas operasi mempunyai hubungan positif dan sangat kuat terhadap dividen.



4.2.2. Analisa Regresi Linier Berganda
Koefisien regresi dinyatakan dalam bentuk persamaan regresi. Adapun persamaan regresi berganda digunakan untuk menguji apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil regresi dapat dilihat pada tabel 4.3berikut ini :
Tabel 4.3
Hasil Analisis Regresi
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) -1.173E9 3.905E9 -.300 .054
LABA_BERSIH .475 .387 .342 1.226 .006 .299 3.341
ARUS_KAS_OPERASI .221 .168 .442 -1.317 .003 .299 3.341
a. Dependent Variable: DEVIDEN

Model persamaan regresi berdasarkan hasil diatas adalah :
Deviden = -1,173 + 0,475 Laba + 0,221 Kas
Adapun interprestasi dari persamaan tersebut adalah :
a. Konstanta sebesar - 1,173 menyatakan dividen tunai akan turun sebesar 1,173 dengan asumsi variabel laba bersih dan arus kas operasi tidak berubah.
b. Koefisien regresi laba bersih sebesar 0,475 menyatakan bahwa setiap kenaikan 1 rupiah laba bersih maka akan menaikkan dividen tunai sebesar 0,475 rupiah dengan asumsi variabel arus kas tidak berubah.
c. Koefisien regresi arus kas operasi sebesar 0,221 menyatakan bahwa setiap kenaikan 1 rupiah arus kas operasi maka akan menaikkan dividen tunai sebesar 0,221 rupiah, dengan asumsi variabel lain tidak berubah.
Interpretasi hasil uji hipotesis dapat dilihat dari hasil uji t, uji F atau ANOVA, uji koefisien determinasi, dan uji beta di bawah ini:
4.2.3. Uji t
Uji t (uji secara parsial) digunakan untuk menunjukkan apakah variabel independen secara individual mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.
Dasar pengambilan keputusan :
1. Jika signifikansi > 0,05, maka Ha ditolak
2. Jika signifikansi < 0,05, maka Ha diterima









Hasil uji t dapat dilihat dari tabel 4.4 berikut ini :
Tabel 4.4
Hasil Uji Parsial (Uji t)


Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) -1.173E9 3.905E9 -.300 .054
LABA_BERSIH .475 .387 .342 1.226 .006 .299 3.341
ARUS_KAS_OPERASI .221 .168 .442 -1.317 .003 .299 3.341
a. Dependent Variable: DEVIDEN

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa variabel laba bersih memiliki nilai signifikansi t sebesar 0,006 lebih kecil dari 0,05, sehingga Ho ditolak yang berarti variable laba mempunyai pengaruh terhadap variable dependen deviden. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan Rosmita (2001) dimana terdapat pengaruh yang signifikan antara laba bersih terhadap pembagian dividen tunai.
Sedangkan berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa variabel arus kas dari aktivitas operasi memiliki nilai signifikansi t sebesar 0,003 lebih kecil dari 0,05, maka Ho ditolak yang berarti bahwa variabel independen arus kas signifikan mempengaruhi variable dependen deviden. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan Rosmita (2001) dimana terdapat pengaruh yang signifikan antara arus kas operasi terhadap pembagian dividen tunai.


4.2.4. Uji F atau ANOVA

Uji F (uji secara simultan) digunakan untuk menguji apakah secara bersama-sama seluruh variabel independen mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.
Dasar pengambilan keputusan berdasarkan probabilitas :
1. Jika signifikansi < 0,05, maka Ho ditolak ( terdapat pengaruh)
2. Jika signifikansi > 0,05, maka Ho diterima (tidak terdapat pengaruh)
Hasil uji F dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut ini ;
Tabel 4.5
ANOVAb
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 8.171E18 2 4.085E18 .893 .009a
Residual 4.576E18 1 4.576E18
Total 1.275E19 3
a. Predictors: (Constant), ARUS_KAS_OPERASI, LABA_BERSIH
b. Dependent Variable: DEVIDEN

Berdasarkan tabel tersebut untuk melihat pengaruh secara serentak dilakukan dengan uji F yaitu pengujian secara serentak pengaruh variabel Laba Bersih dan arus kas operasi terhadap dividen tunai. Pada pengujian di atas diperoleh besarnya nilai signifikansi uji F sebesar 0,009 yang lebih kecil dari 0,05, maka Ho ditolak yang berarti model regresi diatas berguna untuk memprediksi dividen tunai atau dapat dikatakan bahwa laba bersih dan arus kas operasi berpengaruh terhadap dividen tunai.

4.2.5. Uji Koefisien Determinasi (R2)
Uji ini bertujuan untuk mengukur seberapa besar variasi dari variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen. Kelemahan mendasar penggunaan koefisien determinasi adalah bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan kedalam model. Banyak peneliti menganjurkan untuk menggunakan nilai Adjusted R² pada saat mengevaluasi mana model regresi terbaik karena nilai Adjusted R² dapat naik atau turun apabila suatu variabel independen ditambahkan kedalam model. Hasil uji koefisien determinasi dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut ini :


Dari hasil pengolahan regresi berganda dapat diketahui bahwa koefisien determinasi adjusted R2 = 0,700 yang berarti secara bersama-sama laba bersih dan arus kas operasi mampu menjelaskan variasi dari variabel dividen tunai sebesar 70 % sedangkan sisanya (100 % - 70% = 30 %) dapat dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan ke dalam model regresi.



4.2.6. Uji Koefisien Beta
Uji koefisien beta digunakan untuk menunjukkan variabel bebas manakah yang dominan mempengaruhi dividen tunai, dapat dilakukan dengan melihat nilai koefisien beta yang distandarisasi paling besar. Hasil uji koefisien beta dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut ini :
Tabel 4.7
Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) -1.173E9 3.905E9 -.300 .054
LABA_BERSIH .475 .387 .342 1.226 .006 .299 3.341
ARUS_KAS_OPERASI .221 .168 .442 -1.317 .003 .299 3.341
a. Dependent Variable: DEVIDEN
Hasil Uji Koefisien Beta
Menurut Ghozali (2007 : 88) yaitu : koefisien beta digunakan untuk melihat pentingnya masing-masing variabel independen secara relatif dan ada tidaknya multikolinearitas antar variabel independen. Koefisien tersebut disebut Standardized Coefficient yang mampu mengeleminasi perbedaaan unit ukuran pada variabel independen.
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa variabel yang paling dominan adalah variabel arus kas operasi yang ditunjukkan dengan nilai koefisien beta yang distandarisasi sebesar 0,442 > 0,342, sehingga dapat disimpulkan bahwa arus kas operasi lebih berpengaruh terhadap dividen tunai dibandingkan dengan laba bersih.

4.3. Pembahasan Hasil Penelitian
Setelah melakukan analisis data menggunakan program SPSS versi 17 maka dapat diketahui besarnya koefisien korelasi (hubungan) antara Laba Bersih dan Arus Kas Operasi terhadap dividen tunai Pada PT Mustika Ratu Tbk yang Terdaftar Di BEI.
Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti maka dapat diketahui bahwa koefisien korelasi antara laba bersih terhadap dividen tunai sebesar 0,865 dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05 yang berarti laba bersih mempunyai hubungan positif dan sangat kuat terhadap dividen tunai. Sedangkan korelasi pearson antara arus kas operasi terhadap dividen tunai sebesar 0,850 dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05 yang berarti arus kas operasi mempunyai hubungan positif dan sangat kuat terhadap dividen.
Model persamaan regresinya adalah Deviden = -1,173 + 0,475 Laba + 0,221 Kas. Dari pengolahan data diatas juga diketahui bahwa variable Laba bersih memiliki nilai signifikansi t sebesar 0,006 lebih kecil dari 0,05, maka Ho ditolak yang berarti bahwa variabel dividen tunai secara persial dipengaruhi oleh laba bersih . Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan Rosmita (2001) dimana terdapat pengaruh yang signifikan antara laba bersih terhadap pembagian dividen tunai.
Dapat diketahui pula bahwa variabel arus kas dari aktivitas operasi memiliki nilai signifikan t sebesar 0,003 lebih kecil dari 0,05, maka Ho ditolak yang berarti bahwa variabel dividen tunai (Y) secara parsial dipengaruhi oleh arus kas operasi (X2). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan Rosmita (2001) dimana terdapat pengaruh yang signifikan antara arus kas operasi terhadap pembagian dividen tunai.
Untuk melihat pengaruh secara serentak dilakukan dengan uji F yaitu pengujian secara serentak pengaruh variabel Laba Bersih dan arus kas operasi terhadap deviden tunai (Y). Pada pengujian ini diperoleh besarnya nilai signifikansi uji F sebesar 0,009 lebih kecil dari 0,05, maka Ho ditolak yang berarti model regresi dapat digunakan untuk memprediksi dividen tunai atau dapat dikatakan bahwa laba bersih dan arus kas operasi berpengaruh terhadap dividen tunai.
Dari hasil pengolahan regresi berganda dapat diketahui bahwa koefisien determinasi R2 = 0,70. Artinya secara bersama-sama laba bersih dan arus kas operasi mampu menjelaskan variasi dari variabel dividen tunai sebesar 70 % sedangkan sisanya (100 % - 70% = 30 %) dapat dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan ke dalam model regresi.
Dari hasil uji koefisien beta diketahui bahwa variabel yang paling dominan adalah variabel arus kas operasi yang ditunjukkan dengan nilai koefisien beta yang distandarisasi sebesar 0,442, sehingga dapat dikatakan bahwa arus kas operasi lebih berpengaruh terhadap dividen tunai dibandingkan dengan laba bersih.
Hal ini di dukung dalam teori yang dikemukakan oleh Hendriksen dan Breda (1992:271) dalam Rasyid (2001) berpendapat bahwa : “ Laba bersih sering dianggap sebagai indikasi kemampuan perusahaan untuk membayar dividen. Hal ini benar apabila manajemen perusahaan mendasarkan pemberian dividen secara ketat atas porsi tertentu dari laba bersih secara tetap. Salah satu kelemahan dari laba bersih sebagai prediktor dividen di masa datang adalah sulitnya melakukan penandingan (matching) yang tepat antara beban (expense) dengan pendapatan (revenue) akibat sifat prosedur alokasi yang arbiter atau acak sehingga laba bersih yang dihasilkan menjadi bias.



Oleh sebab itu, penggunaan arus kas dapat menghindari pengaruh alokasi sehingga prediksi atas dividen dapat dilakukan dengan lebih baik. Arus kas yang digunakan untuk membayar dividen umumnya berasal dari arus kas operasi, karena arus kas inilah yang berasal dari kemampuan perusahaan sendiri. Arus kas operasi dapat digunakan untuk membayar dividen, membayar hutang atau untuk ekspansi.

























BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Terdapat pengaruh yang signifikan antara laba bersih terhadap dividen tunai pada PT Mustika Ratu Tbk yang terdaftar di BEI pada tahun 2006 sampai tahun 2009 yang ditunjukkan dengan nilai signifikansi t sebesar 0,006 lebih kecil dari 0,05. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan Rosmita (2001) dimana terdapat pengaruh yang signifikan antara laba bersih terhadap pembagian dividen.
2. Terdapat pengaruh yang signifikan antara arus kas operasi terhadap dividen tunai pada PT Mustika Ratu Tbk yang terdaftar di BEI pada tahun 2006 sampai tahun 2009 yang ditunjukkan dengan nilai signifikan t sebesar 0,003 lebih kecil dari 0,05. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan Rosmita(2001) dimana terdapat pengaruh yang signifikan antara arus kas operasi terhadap pembagian dividen.
3. Berdasarkan Hasil Uji F (uji simultan) menunjukkan bahwa laba bersih dan arus kas operasi bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap dividen tunai. Hal ini terbukti dengan hasil uji F yang dilakukan bahwa nilai probabilitasnya sebesar r = 0,009 < 0,05. Maka Ha3 diterima yang artinya laba bersih dan arus kas operasi berpengaruh secara bersama-sama terhadap dividen tunai.
Hasil Uji Koefisien Determinasi menunjukkan bahwa koefisien determinasi R2 = 0,70. Artinya secara bersama-sama laba bersih dan arus kas operasi mampu menjelaskan variasi dari variabel dividen tunai sebesar 70% sedangkan sisanya (100% - 70% = 30%) dapat dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan ke dalam model regresi.
4. Hasil Uji Beta menunjukkan bahwa arus kas operasi lebih berpengaruh terhadap dividen tunai dibandingkan dengan laba bersih pada PT Mustika Ratu Tbk yang terdaftar di BEI pada tahun 2006 sampai tahun 2009 yang ditunjukkan dengan nilai koefisien beta yang distandarisasi sebesar 0,442.

5.2. Saran
Dari hasil penelitian dan kesimpulan diatas, maka penulis dapat memberikan saran-saran sebagai berikut :
5.2.1. Dalam Penelitian ini Arus Kas memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan laba bersih. Hal ini dapat dijadikan pertimbangan pihak perusahaan untuk membagikan dividen secara umum, sebaiknya perusahaan menggunakan laporan arus kas sebagai indikasi pembayaran dividen tunai karena arus kas lebih menggambarkan jumlah kas rill yang ada di suatu perusahaan tersebut.
5.2.2. Apabila perusahaan telah menghasilkan Laba Bersih, tetapi tidak memiliki ketersediaan kas yang cukup untuk membayar dividen tunai, maka dapat disarankan agar perusahaan tetap membagikan dividen kepada pemegang saham berupa dividen saham.